Jumat, 29 Mei 2020

Meninggal pada Hari Jumat Terbebas dari Siksa Kubur, Benarkah?

Kita pasti sering mendengar dengan pernyataan bahwa orang yang meninggal pada hari jumat akan terbebas dari siksa kubur. Tapi benarkah demikian? Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur,” (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074). Akan tetapi para ulama hadis berbeda pendapat tentang kesahihan hadis ini. Mereka berpendapat bahwa hadis itu adalah hadis dhaif. Imam Tirmizi ketika meriwayatkan hadis ini menjelaskan hadis tersebut adalah hadis gharib, yang kemudian ditegaskannya lagi sanadnya tidak tersambung (munqathi’/terputus). Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan dalam kitab Fathul Bari sanad hadis ini dhaif dan juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan lafaz yang semisalnya dari Hadis Anas bin Malik, tetapi sanadnya lebih dhaif lagi. Syekh Syu’aib Al-Arnauth ketika memberi komentar terhadap hadis ini dalam Musnad Imam Ahmad mengatakan sanad hadis itu dhaif. Kemudian, ia menyebutkan beberapa hadis yang mendukung dan menegaskan semua hadis yang mendukung tersebut tidak bisa digunakan untuk menguatkan hadis ini. Dan, Albani telah salah karena mengatakan hadis itu hasan atau sahih dalam kitabnya Ahkam al-Janaiz. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Abdurrazzak dalam kitabnya al-Mushannaf dengan lafaz “dilepaskan dari azab kubur”, tetapi dalam sanadnya ada Ibnu Juraij yang terkenal dalam mentadlis hadis. Sebagian ulama mengatakan jika memang kematian seseorang pada hari tertentu memiliki keutamaan atau keistimewaan tentunya hari Senin lebih utama karena pada hari itulah Nabi Muhammad SAW, kekasih dan makhluk paling mulia yang diciptakan Allah SWT, meninggal dunia. Jika hadis-hadist di atas adalah hadis sahih maka itu menunjukkan keutamaan bagi Muslim dan Muslimah yang meninggal pada hari Jumat. Dan, tentunya keutamaan ini hanya bagi kaum Muslimin yang meninggal dalam ketauhidan, yakni keimanannya tidak dinodai oleh kemusyrikan, kekufuran, serta segala yang membatalkan keimanan seseorang. Sedangkan, mereka yang meninggal dalam kemusyrikan dan kekufuran tentunya akan mendapatkan azab kubur dan siksa neraka sebagaimana yang telah dijanjikan Allah SWT dalam Al-Quran dan Sunah Rasul-Nya. Sebagai seorang Muslim dan berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang akan masuk surga atau masuk neraka, kecuali yang sudah disebutkan oleh Nabi saw dalam hadis-hadisnya.

Inilah Bacaan Doa Sebelum dan Sesudah Adzan

Tidak ada satu riwayatpun yang menyuruh Muadzin mengucapkan lafaz tertentu sebelum adzan seperti bacaan Hauqalah, tasbih, tahmied, shalawat atau yang lainnya yang berkembang di masyrakat (baca: tuntunan adzan dan iqomat). Adapun bacaan basmalah itu disunahkan secara umum untuk mengawali segala perbuatan yang baik bukan semata – mata adzan. Sementara sesudah adzan baik (Mu’adzin maupun Mustami’unnida’) disyariatkan membaca doa Jabir bin Abdullah berkata bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda “Barang siapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan ‘Allahumma Rabba………..wa’adttah’ niscaya akan mendapat syafa’atku pada hari kiamat. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adzan bab Ad-Du’a inda an-Nida, hadis ke 579. Ada sebagian orang yang menambah doa ini dengan lafaz: Hadis tentang tambahan ini tidak ada asalnya. Karena hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan yang lainya sama sekali tidak ada tambahan tersebut, As-Sakhaawy mengatakan “aku tidak pernah dapati tambahan lafaz tersebut sama sekali”. Ada juga tambahan “Innaka laa tukhliful mii’ad” ini terdapat dalam sunan al-Baihaqi tetapi al-Albani mengatakan riwayat ini syadz (cacat). Syaikh Muhammad Abdussalam Khadr Asy Syaqiry dalam Assunan wa Mubtada’at al Muta’alliqah bi al Adzkar wa as Shalawat yang diterbitkan oleh “Dar al-Fikr” mengatakan penambahan kata “Wa darajatarrafi’ah” di tengah shalawat adalah bid’ah dan penambahan kalimat “Innaka la tukhliful mii’ad” di akhir shalawat tidak memiliki dasar hadis yang shahih, hanya menisbatkan kepada Uwais al-Qarni semata dan itu salah besar. Membaca shalawat yang dibuat-buat, ayat-ayat tertentu dengan redaksi atau susunan tertentu, syair atau semacamnya apalagi dengan jama’ah dan dikeraskan sama sekali tidak ada tuntunan dari Rasulullah saw. yang disunahkan adalah menirukan sebagaimana yang diucapkan Mua’adzin lalu membaca shalawat atau berdoa sesuai sabda dan tuntunan Rasulullah saw. Disyari’atkan juga membaca shalawat/doa untuk Nabi saw. Abdullah bin Amru bin Ash mendengar Rasulullah saw. Bersabda “Apabila mendengar seruan muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkanya lalu bershalawatlah untuku, sesungguhnya barang siapa yang bershalawat untuku satu kali maka Allah memberikan rahmat padanya sepuluh kali kemudian mintalah wasilah untuku karena sesungguhnya wasilah itu suatu kedudukan di syorga yang hanya diberikan kepada seorang hamba dan aku mengharap akulah hamba itu” diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shalat Kutubuttis’ah hadis ke 577 juga terdapat dalam (HPT: 125).

Tak Sadar Sering Diucapkan, Ternyata Kalimat Ini Sangat Dibenci Allah

 



Kalimat apa yang dimaksud?


Sebaiknya mulailah berlatih menjaga lisan. 

         Ucapan yang tak terjaga yang keluar dari mulutmu bisa membuat orang tersinggung.


Yang lebih mengkhawatirkan, kamu tak menyadari kalimat yang terlontar ternyata sangat dibenci Allah SWT.


Lantas, kalimat apa yang dimaksud? Sedangkan apakah dalil yang menjelaskan mengenai hal ini?


Kalimat yang dimaksud yaitu kalimat yang merepresentasikan kesombongan dan penolakan terhadap ajakan orang lain berbuat baik, terutama untuk bertaqwa kepada Allah SWT.


Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


" Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasehati temannya, 'Bertaqwalah kepada Allah', namun dia menjawab: 'Urus saja dirimu sendiri'."

      (Hadis riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman,  An Nasai dalam Amal Al Yaum wa Al Lailah,  dishahihkan Al Albani dalam As Shahihah).


Tanda Kesombongan.


Kalimat di atas menunjukkan kesombongan seseorang karena tidak mau mendengarkan ajakan orang lain. 

    Bahkan orang lain dianggap tidak boleh mengurusi masalah ketaqwaannya.


Padahal sejatinya, manusia seharusnya saling mengingatkan dalam kebaikan.


Sikap sombong ini pernah juga dialami oleh Nabi Nuh 'alaihi salam.

     Beliau pun mengadu kepada Allah terkait kesombongan kaumnya, yang tidak mau menyembah Allah SWT. 

      B Hal ini dijelaskan dalam Quran Surat Nuh Ayat 5-7 yang artinya sebagai berikut:


Sabda Nabi Nuh


Nuh berkata: “ Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). 


Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. 

(QS. Nuh: 5-7)


Dalam kehidupan sehari-hari sangat sering sekali kita menjawab nasihat orang lain dengan kalimat yang dibenci Allah ini.


Sehingga pada akhirnya orang lain tidak lagi mau menasihati kita karena takut akan mendapatkan perlakuan serupa. 


Pada akhirnya, manusia hanya bergumal pada kesalahan dan tidak mau memperbaiki diri.

Doa Selesai Sholat Dhuha yang Mampu Melancarkan Rezeki



Umroh.com –Waktu dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur.

 Amalan yang dapat kita lakukan di kala waktu dhuha adalah sholat sunnah Dhuha. 

Jumlah rakaat sholat dhuha minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat.

 Ada baiknya setelah sholat dhuha membaca doa selesai sholat dhuha. Agar Allah SWT senantiasa memberikan pahala berlimpah untuk kita.

 Keutamaan Sholat Dhuha Sholat dhuha menggantikan kewajiban sedekah untuk semua persendian sebagaimana dalam hadits Abu Dzar dan Buraidah di atas. Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghathafani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

 “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at sholat di awal siang (di waktu Dhuha).

 Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Tirmidzi) Sholat dhuha juga disebut sebagai sholat awwabin, yaitu sholatnya orang-orang yang banyak kembali kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 صلاةُ الأوَّابينَ حين تَرمَضُ الفِصَالُ 

“Sholat awwabin adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim) 
Manfaat dan faedah dari Sholat Dhuha Manfaat atau faedah sholat dhuha yang dapat diperoleh dan dirasakan oleh orang yang melaksanakan salat duha adalah dapat melapangkan dada dalam segala hal terutama dalam hal rizki, sebab banyak orang yang terlibat dalam hal ini. Dr. Ebrahim Kazim, seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy menyatakan bahwa gerakan teratur dari sholat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar biasa terhadap sistem kardiovaskular. 

Terlebih lagi sholat dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya. Tetapi juga menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari, sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang sholat, “Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengeluarkan zat-zat seperti enkefalin dan endorfin. 

Zat ini sejenis morfin, termasuk opiat. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate lainnya. Bedanya, zat ini alami, di produksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.” Referensi Hadits terkait Sholat Dhuha Hadits rasulullah terkait sholat dhuha antara lain: 

“Barang siapa sholat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga.” (HR. Tirmiji dan Abu Majah)

 “Siapapun yang melaksanakan sholat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi) “Dari Ummu Hani bahwa rasulullah SAW salat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud) Dari Zaid bin Arqam berkata, “Nabi SAW. keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang sholat dhuha.” Ia bersabda, 

“Sholat awwabin (duha‘) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi) Rasulullah bersabda di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, 

“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat sholat dhuha, karena dengan salat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani) “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat sholatnya setelah sholat shubuh karena melakukan iktikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat sholat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan.” (HR Abu Daud) Dari Abi Zar dari nabi SAW, dia bersabda, 

“Setiap pagi ada kewajiban untuk bersedekah untuk tiap-tiap persendian (ruas). 

Tiap-tiap tasbih adalah sedekah, riap-tiap tahlil adalah sedekah, tiap-tiap takbir adalah sedekah, dan menganjurkan kebaikan serta mencegah kemungkaran itu sedekah. 

Cukuplah menggantikan semua itu dengan dua rakaat sholat dhuha.” (HR Muslim) 

Tata Cara Sholat Dhuha Tata cara melaksanakan sholat dhuha sama sebagaimana tata cara sholat lainnya. 

Dikerjakan dengan dua rakaat-dua rakaat, dengan salam setiap dua rakaat.

 Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
صلاةُ اللَّيلِ والنَّهارِ مَثنَى مَثنَى

 “Sholat (sunnah) di malam dan siang hari, dua rakaat-dua rakaat” (HR. Abu Daud, An Nasa-i). Syaiikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

 ويقرأ فيها ما تيسر سوراً أو آيات ليس فيها شيء مخصوص، يقرأ فيها ما تيسر من الآيات أو من السور. وأقلها ركعتان تسليمة واحدة، وإن صلى أربع أو ست أو ثمان أو أكثر يسلم من كل ثنتين فكله حسن 

“Dalam sholat dhuha (setelah Al Fatihah, pent.) silakan membaca surat atau ayat-ayat apa saja yang dimampui, tidak ada surat atau ayat khusus yang diutamakan. Silakan membaca ayat atau surat apa saja. Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat dengan satu salam. Jika ingin sholat empat rakaat atau enam atau delapan rakaat, atau bahkan lebih, dengan salam di setiap dua rakaat, maka ini semua baik” Doa Setelah Sholat Dhuha Adapun doa setelah sholat dhuha adalah sebagai berikut :

 اَللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالجَمَالَ جَمَالُكَ وَالقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

 Allahumma innadhdhuha-a-dhuha-uka, walbahaa-abahaa-uka, wal jamala jamaaluka, wal quwwata quwaatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ‘ishmata ishmatuka. Allahumma inkaana rizqii fissamma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’siron fayassirhu, wa inkaana harooman fa thohhirhu, wa inkaana ba’idan fa qoribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudrotika, aatini maa ataita ibaadakash shoolihin. 

Artinya: 

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhannku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkanlah kepada hamba-hambaMu yang soleh” 

Sebenarnya hal yang paling penting disini bukan lah kuantitasnya melainkan kualitas. 

Menjalankan shalat dhuha dengan lebih sedikit rakaat lebih baik dari mengerjakan banyak rakaat tetapi tidak khusuk.

 Hendaknya shalat dhuha dilakukan secara istiqomah dan rutin agar dapat memperoleh keutamaan-keutamaan yang disebutkan diatas.

Muslimah... Haruskah Kau Menangis Karena Jomblo?

Ada banyak sekali persoalan yang membuat kita galau, terutama soal jodoh. Apalagi bagi kaum hawa, jodoh seringkali menjadi persoalan yang sangat urgent. Ada yang sudah cukup umur tapi belum menemukan jodohnya. Ada yang sudah menemukan jodoh, tapi terkendala izin orangtua dan masalah finansial. Ada juga yang sibuk ‘mengkompetisikan’ lawan jenis sampai dia merasa menemukan jodoh yang paling tepat. Fenomena jodoh memang bermacam-macam. Mengharapkan jodoh memang tidak salah.Dalam Islam, Alloh SWT mengakomodir perasaan cinta kepada lawan jenis dengan ikatan suci yaitu sebuah pernikahan. Menjadi sesuatu yang menyengsarakan jiwa ketika seseorang terus menerus mengeluh dan mengadukan keresahannya pada Alloh, “Ya Alloh Siapakah Jodohku?”. Ia berharap Alloh akan segera memberikan jawaban-Nya dengan mengirimkan seorang jodoh. Belum lagi perasaan tidak enak ketika disebut seorang jomblo. Seringkali dikatakan “kok jomblo? Gak laku ya!” Atau “ikh ga gaul banget sih ga mau pacaran?” ...seseorang yang layak dicintai, bukan karena keindahan fisik yang akan luntur oleh waktu, akan tetapi keindahan akhlak yang akan bertahan dan menghantarkan pasangan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta Alloh SWT Namun apakah seseorang yang belum menemukan jodoh itu harus menangis, bersedih hati bahkan mengutuk Alloh karena hal itu? Padahal Alloh sudah menjanjikan loh dalam QS 24:26 bahwa: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…” Daripada meratapi kesendirian, banyak banget hal yang bisa kamu lakukan sambil menyiapkan diri bertemu sang jodoh. Salah satunya dengan menjadikan diri sebagai seseorang yang layak dicintai, bukan karena keindahan fisik yang akan luntur oleh waktu, akan tetapi keindahan akhlak yang akan bertahan dan menghantarkan pasangan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta Alloh SWT. Nih ada beberapa tips menjadikanmu seseorang yang layak dicintai, diantaranya: Perbaiki keimanan, seseorang yang memiliki iman yang kuat akan senantiasa berserah diri kepada Alloh dan bersabar. Seseorang yang layak dicintai adalah seseorang yang menghidupkan Alloh dalam jiwanya, membahana ke dalam seluruh sanubarinya, meluap dari setiap ucapannya, tercermin dalam perilakunya, sehingga iman menempati pilar kokoh yang membentengi prinsipnya. Iman mendasari hidupnya, termasuk dalam menemukan jodoh yang dilakukan atas dasar lillahi saja. Bersifat dan bersikap mulia. Rendah hati, menepati janji dan dapat dipercaya, taat beribadah, berpikiran positif. Tentunya kita harus rendah hati bukan rendah diri. Menjauhi kesombongan dan menjauhi perasaan lebih dari orang lain. Sibukkan diri meningkatkan potensi diri. Mumpung masih sendiri, ya pergunakan saja waktu untuk hal-hal yang lebih positif. Mengejar cita-cita yang belum tercapai, mengembangkan bakat yang masih terpendam. Atau bahkan mencoba hal-hal baru yang tentunya harus ada nilai ibadahnya ya. Karena belum tentu sesudah kita memiliki pasangan kita masih memiliki waktu untuk melakukan hal-hal itu. Muhammad-kan dirimu, agar Alloh meng-Khadijah-kan jodohmu. Fathimah-kan dirimu, agar Alloh meng-Ali-kan pasanganmu Nah, seperti itulah sahabat! tulisan ini jadi bahan renungan untuk penulisnya sendiri. Ketika kita berharap dipertemukan dengan jodoh yang mulia, maka berusahalah dari sekarang untuk memuliakan diri. Karena janji Alloh: orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Muhammad-kan dirimu, agar Alloh meng-Khadijahkan jodohmu. Fathimah-kan dirimu, agar Alloh meng-Alikan pasanganmu. Wallohu a’lam bishowwab.
ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUM’AT Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا “Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di surga meski ia memasukinya.” [HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365] #Beberapa_Pelajaran: 1) Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan sholat Jum’at. Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata, وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا “Dalam hadits ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka terlambat dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari amalan yang tinggi kepada yang amalan yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457] 2) Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan sholat Jum’at adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk surga, bisa juga bermakna derajatnya di surga diturunkan. 3) Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar. 4) Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf), jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam. 5) Keutamaan sholat Jum’at di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam. ✏Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah Semoga bermanfaat. Mohon ta’awun menyebarkan dakwah tauhid dan sunnah ini. Semoga menjadi sebab hidayah dan pemberat timbangan kebaikan kita di Hari Kiamat, insya Allah ta’ala. Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

Kamis, 28 Mei 2020

Inilah Bahaya Dosa Jariyah, Dosa Mengalir Hingga Hari Kiamat

 Setiap perbuatan,


sekecil apapun itu akan dihisab dan diperhitungkan di akhirat kelak. 


Tidak hanya amal baik, begitupun perbuatan buruk. 


Ketika seseorang melakukan perbuatan baik (beramal) ikhlas karena Allah, dan amalan tersebut berguna untuk banyak orang, membawa kemaslahatan bagi banyak orang, maka amalan tersebut akan menjadi amal jariyah untuknya, yang berarti sampai kapanpun, bahkan sampai orang tersebut meninggal dunia, pahala akan terus mengalir untuknya. 


Begitu pula dengan dosa jariyah, seseorang yang melakukan suatu perbuatan buruk dan perbuatan tersebut diikuti oleh orang lain, ataupun merugikan orang lain, maka sepanjang itu pula dosanya mengalir untuk dirinya sampai hari kiamat. Lalu, seberapa bahaya dosa jariyah dan bagaimana cara bertaubatnya?


 Bahaya Dosa Jariyah yang Dilakukan Manusia 


Coba diingat-ingat lagi, apakah kita pernah melakukan perbuatan buruk yang akhirnya membuat orang lain juga terjerumus dalam dosa? Entah itu mengunggah video porno, membagikan foto membuka aurat di media sosial dan tersebar serta dilihat oleh laki-laki, pernah mengajarkan keburukan dan memberi contoh buruk kepada orang lain seperti berbohong, merokok, mencuri, atau berghibah.


 Sebagaimana ada pahala amal jariyah maka ada juga bahaya dosa jariyah, hal tersebut disebutkan dalam hadist berikut, 


“Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah (baik) dalam Islam maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.


 Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang melakukan sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).


 Dari hadits di atas, ditegaskan bahwa mereka yang melakukan dosa akan menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikuti keburukan mereka.


 Mereka sama sekali tidak akan diberi keringanan azab karena dosa orang yang mengikutinya, Moslem Fellas. 


Demikian juga Allah berfirman bahwa orang yang mengajarkan atau mencontohkan perbuatan dosa, ia akan menanggung dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat (jika ia tidak bertaubat).


 “Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada Hari Kiamat, dan memikul dosa-dosa orang yang mereka sesatkan, yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).” (QS. an-Nahl: 25). 


Kehidupan kita di dunia ini pasti akan memberikan dampak setelah kita mati nanti, dan meninggalkan jejak kebaikan atau pun keburukan.


 “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas (dampak) yang mereka tinggalkan.


 Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) 


Cara bertaubat dari dosa jariyah Lalu, bagaimanakah cara bertaubat dari dosa jariyah ini? 


Bertaubat dari dosa jariyah yakni dengan bersungguh-sungguh bertaubat, jika sudah menyebarkan kejelekan, maka berusaha untuk menghilangkannya dan mencari cara untuk menghapusnya atau meluruskan hal tersebut. 


Jika sudah mengajarkan, maka berusaha memperbaiki dan menyebarkan koreksi dari kesalahan yang ia sebar dahulu. 


Berita gembiranya adalah, jika sudah bertaubat, maka sudah dosa pun akan dihapus Allah, hal ini disampaikan dalam hadist: 


“Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.“ (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)


 Bahaya dosa jariyah memang begitu menyeramkan. Sudah sepatutnya kita untuk merenungkan kesalahan dan segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan sebelum ajal menjemput. Semangat memperbaiki diri, Moslem Fellas!

Wudhu yang membawa ke Neraka


 Sering kali kita klo wudhu pas tergesa2, atau males basuh lengan sampe atas siku, atau gulung celana.. sehingga bagian2 penting malah tidak terkena air.. dan berakibat diancam masuk neraka.. kira2 bagian tubuh mana saja ya? . 1. Tumit... “Celakalah tumit-tumit dari api neraka.” Beliau menyebut dua atau tiga kali. (HR. Bukhari no. 96 dan Muslim no. 241). Nah kadang klo wudhu kakinya cuma di siram doang ato di usap, tpi ga sampai mata kaki bahkan tumitnya.. hati2 ya.. . 2. Sela2 jari kuku.. ‘Umar bin Al Khottob mengabarkan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas bagian kuku kakinya tidak terbasuh, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan berkata, “Ulangilah, perbaguslah wudhumu.” Lantas ia pun mengulangi dan kembali shalat. (HR. Muslim no. 243). . 3. Siku.. Sesuai ayat di poster klo kita wudhu ga sentuh siku maka wudhu kita tidak sah.. . InsyaAllah itu aja bagian2 urgent yg sering lalai,, hati2 yaa bisa jadi ancamannya masuk neraka.. klo wudhunya ga sah apalagi sholatnya ... semoga bermanfaat :)

Senin, 25 Mei 2020

Rasulullah SAW bersabda,


Ini Pesan Rasulullah Agar Setan Tak Ganggu Shalat Kita Setan itu mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika manusia berbuat hal-hal yang negatif, maka ia sedang digoda oleh setan. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan iman agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk. Dalam Kitab Thanbihul Ghafilin dikisahkan bahwa apabila setan-setan itu sukses membuat manusia enggan melaksanakan shalat, maka setan itu akan menerima pujian dan dimuliakan di hadapan iblis. Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain. Dan begitu juga sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap tugas ini. Ada setan spesialis yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama “Khanzab”. Utsman bin Affan pernah bertanya kepada Raulullah SAW, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Rasulullah SAW bersabda, “Itulah setan Khanzab, jika engkau merasakan kehadirannya, maka bacalah ta’awud kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali,” (HR. Ahmad).

Minggu, 24 Mei 2020

Memanjangkan Kuku Haram? Benarkah? SEBAGIAN orang menyukai kuku yang panjang lagi bersih, merawat kuku panjang menjadi kesenangan bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya bagaimana Islam memandang perkara ini? Bagaimana hukum memanjangkan kuku dalam Islam? Islam mengajarkan akan kemuliaan manusia. Sementara memanjangkan kuku, identik dengan binatang. Karena itu, islam melarang umatnya memanjangkan kuku. Untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai manusia yang berbeda dengan binatang. Abu Ayyub Al Azdi menceritakan “Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya pada beliau mengenai berita langit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ada orang diantara kalian yang bertanya tentang berita langit, sementara dia biarkan kukunya panjang seperti cakar burung, dengan kuku itu, burung mengumpulkan janabah dan kotoran,” (HR. Ahmad 23542, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 861, dan hadis ini dinilai dhaif oleh Syuaib al-Arnauth). Untuk itulah, bagian dari ajaran para nabi, mereka tidak membiarkan kuku mereka. Mereka memotong kuku mereka, karena ini yang sesuai fitrah manusia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak,” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 258). Jangan Biarkan Panjang! Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batas waktu kepada para sahabat, agar kuku mereka tidak dibiarkan panjang. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, agar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari,” (HR. Muslim 258). Batas yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatnya umum, berlaku untuk semua bagian badan yang dianjurkan untuk dipotong. Hanya saja, jika kuku dibiarkan sampai 40 hari, tentu akan sangat mengerikan. Sehingga untuk kuku, yang menj
Ini Ucapan Selamat Idulfitri Sesuai Sunah Rasulullah Banyak cara orang mengucapkan Hari Raya Idulfitri. Yang sering terdengar adalah 'Minal Aidin wal Faidzin'. Lalu, bagaimana ucapan Idulfitri yang sesuai sunah Rasulullah? Dari Jubair bin Nufair, ia mengatakan bahwa ketika para sahabat Rasululllah berjumpa dengan Hari Raya Idulfitri, mereka pun saling mengucapkan kalimat "taqabbalallahu minna wa minkum". Ucapan Idulfitri 'taqabbalallahu minna wa minkum' memiliki arti "semoga Allah menerima amalku dan amal kalian". Dikutip dari jumanto.com, berikut ini beberapa redaksi ucapan doa dalam hari raya baik panjang maupun pendek. 1. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Arab Pendek Versi yang pertama adalah yang paling mudah untuk diucapkan karena pendek dan sudah familiar kita dengar saat lebaran atau saat ada orang membaca doa tahlilan. Berikut ini tulisan taqabbalallahu minna waminkum dalam bahasa arab: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ Arti dari taqabbalallahu minna waminkum: “mudah-mudahan Allah menerima (amal ibadah) kita dan kalian“. Karena diucapkan selepas Ramadhan, tentu saja maksudnya berharap agar amal ibadah kita dan orang yang kita ajak bicara selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah. 2. Taqabbalallohu Minna Waminkum Wataqobbal Ya Karim Untuk versi yang agak panjang, ada juga yang menambahkan dengan mengucapkan doa lengkap berikut: taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim. تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ artinya kurang lebih: “mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita dan kamu semua, dan terimalah ya (Allah) yang maha Mulia“. 3. Taqabbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ Artinya kurang lebih: “Semoga Allah menerima kita dan kamu semua, puasa kita dan puasa kamu semua“. 4. Versi Ucapan Selamat Idul Fitri Yang Panjang Lengkap Ada juga yang menggunakan lafaz doa lebih panjang lagi yaitu: Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ Atau versi yang paling panjang sebagai berikut: Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ Artinya kurang lebih“semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu, Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu semua senantiasa dalam kebaikan.” Selain itu ada juga yang menggunakan versi lain yaitu taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum kullu aam wa antum bikhair. Jawaban Ucapan Taqabbalallahu Minna Waminkum Jika ada yang memberikan doa taqabbalallahu minna wa minkum kepada kita, kita bisa menjawabnya dengan “minna waminkum taqobbal ya karim”. Arti kalimat tersebut kurang lebih “Ya Allah Yang Maha Mulia terimalah amal kami dan kamu”. Jadi dua-duanya sama-sama mendoakan dan insya Allah Maqbul. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.