Minggu, 12 Desember 2021

Do’a Meminta Petunjuk dan Kebenaran



 Do’a Meminta Petunjuk dan Kebenaran


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ


“Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]


Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya,


قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ


“Ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]”. (HR. Muslim no. 2725)


Faedah hadits:


Pentingnya meminta hidayah yaitu berupa hidayah ilmu (berupa penjelasan) dan hidayah tawfiq (berupa petunjuk untuk beramal). Karena boleh jadi seseorang sudah mendapat penjelasan ilmu, namun belum bisa mengamalkannya.


Pentingnya meminta as sadaad, yaitu mencocoki kebenaran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keyakinan (i’tiqod).


Hendaklah setiap hamba banyak meminta tolong pada Allah dalam setiap urusannya.

Sabtu, 11 Desember 2021

Bolehkah Doa dengan Bahasa Sendiri dalam Shalat?



Berdoa bisa jadi dilakukan di luar shalat, bisa pula di dalam shalat misal saat sujud atau akhir shalat menjelang salam. Untuk doa di dalam shalat, sah-sah saja dilakukan. Bisa pula doa tersebut dengan bahasa sendiri. Namun baiknya di dalam shalat dengan bahasa Arab.


Para ulama berbeda pendapat mengenai doa dengan bahasa sendiri di dalam shalat. Pendapat yang lebih tepat adalah yang dipilih dalam madzhab mayoritas ulama selain Abu Hanifah bahwa doa selain dari Al Quran masih boleh dibaca.


Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Boleh saja berdoa di dalam shalat dengan doa yang tidak terdapat dalam Al Quran. Hal ini berbeda dengan pendapat ulama Hanafiyah.” (Fathul Bari, 2: 230).


Di antara dalil yang jadi pegangan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masih bolehnya membaca doa lainnya setelah tasyahud,


ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو


“Kemudian pilihlah doa pada Allah yang disukai, berdoalah.” (HR. Bukhari no. 835 dan Muslim no. 402).


Dalam riwayat Muslim disebutkan,


ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ


“Kemudian ia memilih memanjatkan doa masalah sesuai yang ia mau.” (HR. Muslim no. 402).


Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بِمَا بَدَا لَهُ


“Jika salah seorang di antara kalian melakukan tasyahud, maka mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal yaitu dari siksa Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejelekan Al Masih Ad Dajjal. Lalu berdoalah untuk dirinya yang ia suka.” (HR. Muslim no. 588 dan An Nasai no. 1311)


Dengan demikian, sah-sah saja berdoa dengan doa buatan sendiri. Namun berdoa di dalam shalat dengan redaksi buatan sendiri hendaknya dalam bahasa Arab, bukan dengan bahasa lainnya untuk menjaga kesakralan shalat dan inilah yang dicontohkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,


إِنَّ صَلَاتَنَا هَذِهِ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ


“Sesungguhnya shalat kita tidak boleh di dalamnya ada perkataan manusia. Yang ada dalam shalat hanyalah ucapan tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.” (HR. Muslim no. 537 dan An Nasai no. 1219). Sehingga kata Ibnu Qudamah, yang dimaksud hadits yang disebutkan sebelumnya adalah, “Pilihlah doa dalam shalat dengan doa yang telah ma’tsur (yang memiliki riwayat) atau semisalnya.” (Lihat bahasan dalam Al Mughni, 2: 237, terbitan Dar ‘Alamil Kutub). Jadi lebih hati-hati adalah berdoa denga doa yang sudah disebutkan dalam Al Quran dan Hadits, itu lebih selamat.

3 Perkara Ini Dilarang Nabi dalam Shalat



Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW dalam shalat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud.


Larangan itu dipertegas dengan sabdanya, ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan pandangannnya ke langit pada waktu shalat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka (dalam riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok),” (HR Bukhari, Muslim & Siraj).


Dalam hadits lain disebutkan, ”Apabila kalian melakukan shalat maka hendaknya janganlah menolah-noleh karena Allah akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika shalat selama ia tidak menolah-noleh,” (HR Tirmidzi dan Hakim).


Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang tiga perkara dalam shalat. Yaitu shalat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk di atas tumit seperti duduknya anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau SAW juga bersabda, ”Shalatlah seperti halnya shalat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu,” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).


Beliau telah shalat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullah SAW melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai shalat Beliau SAW bersabda, ”Bawalah bajuku ini kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm. Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian shalatku tadi. (dalam riwayat lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah melihat gambarnya saat shalat dan hampir saja aku tergoda),” (HR Bukhari, Muslim & Malik).

Bolehkah Perempuan Hanya Mengusap Kerudung Ketika Berwudhu



Allah swt berfirman yang artinya: “Dan usaplah kepalamu,” (QS Al-Maidah: 6).


Ketika berwudhu, ada satu rukun yang mengharuskan kita untuk mengusap bagian kepala dengan tangan yang basah.


Maksud dari mengusap kepala ini adalah membasahi tangan dengan air kemudian mengusapkannya ke kepala hingga rambut menjadi basah. Ada beberapa pendapat ulama mengenai mengusap bagian kepala ini, ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah mengusap sebagian kepala, ada juga yang berpendapat maksudnya adalah mengusap keseluruhan kepala.


Al-Hanafiyah berpendapat bahwa yang harus diusap tidaklah keseluruhan kepala, melainkan hanya sebagian dari kepala mulai dari ubun-ubun hingga atas telinga.


Sementara itu, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa yang wajib diusap di bagian kepala adalah seluruh bagian kepala dari depan sampai belakang. Bahkan, Al-Hanabilah juga mewajibkan untuk membasuh telinga di bagian belakang dan depannya, karena mereka beranggapan bahwa telinga juga merupakan bagian dari kepala.


Sedangkan Asy-syafi’iyah berpendapat bahwa yang wajib diusap dengan air pada saat berwudhu adalah sebagian dari kepala, meski yang basah hanya satu rambut saja.


Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya yang berjudul “Fathul Bari” mengatakan bahwa tidak diperbolehkan oleh para ulama jumhur untuk berwudhu hanya dengan mengusap kerudung tanpa disertai mengusap bagian rambut.


Namun demikian, ada juga beberapa ulama yang membolehkan berwudhu dengan mengusap kerudung. Di antaranya adalah Ibnu Mundzir dalam Al-Mughni (1/132) yang mengatakan, “Adapun kain penutup kepala wanita (kerudung) maka boleh mengusapnya karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya.”


Pendapat ini juga dikuatkan dengan hadits Al Mughirah bin Syu’bah bahwa Rasulullah Saw. Ketika berwudhu mengusap ubun-ubun dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala). (HR. Muslim)


Namun, beberapa ulama membantah pendapat ini dengan menyebutkan bahwa dalam hadits dikatakan bahwa Rasulullah Saw mengusap sebagian kepala lalu mengusap sorbannya. Yang artinya, Rasulullah tak hanya mengusap sorbannya saja ketika berwudhu, tapi juga kepalanya.


Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah mengatakan, “Adapun jika tidak ada kebutuhan akan hal tersebut (berwudhu dengan tetap memakai kerudung) maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama (yaitu boleh berwudhu dengan tetap memakai kerudung ataukah harus melepas kerudung).”(Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah (21/218)


Bagi kita masyarakat Muslim Indonesia yang bermahdzab Syafi’i, sebaiknya kita mengikuti Asy-syafi’iyah, bahwa yang kita lakukan saat berwudhu adalah mengusap sebagian dari kepala, meski hanya satu rambut saja.


Jadi, ketika kita berwudhu di tempat yang terbuka dan memungkinkan terlihat oleh orang yang bukan muhrim, kita tidak perlu membuka kerudung, cukup memasukkan tiga jari yang sudah dibasahi air ke dalam kerudung bagian atas, sehingga sedikit dari rambut kita bisa terbasahi oleh air wudhu. Wallahu ‘alaam bisshawab.

Cara Mendoakan Orang Tua yang Sudah Tiada



Cara Mendoakan Orang Tua yang Sudah Tiada


Soal:


Assalamu ‘Alaikum . . . Ustadz,, bagaimanakah cara kita mendoakan orang tua kita yang sudah meninggal yang sesuai syariah? Juga tata cara kita bila berdoa ke makam (kuburan)..


Jawab: 


Wa’alaikumus Salam Warahmatullah,, Akhi yang mulia. Kita memuji Allah dan bersholawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.


Memintakan ampunan dan doa kebaikan untuk orang tua termasuk hak orang tua atas anak-anaknya. Termasuk bentuk birrul walidain dan berbuat baik kepada keduanya yang memiliki pahala sangat besar di sisi Allah Ta’ala.


Mendoakan orang tua kita yang sudah tiada dengan memintakan ampunan dan rahmat untuknya. Redaksi yang bisa kita pilih dari Al-Qur'an antara lain,


رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ


“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)


Bisa juga dengan doa yang sudah sangat masyhur,


رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْراً


“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka telah mengasuhku sejak kecil.”


Sebagaimana doa Nabi Nuh ‘alaihis salam,


رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ 


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku. . . ” (QS. Nuuh: 28)


Juga perintah untuk memintakan rahmat bagi orang tua,


وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


“Dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)


Doa-doa ini bisa dibaca dalam shalat atau di luar shalat. Bisa dibaca saat berada di tempat atau waktu mustajab.


Ketika di luar shalat disempurnakan dengan adab-adab lainnya; salah satunya dengan mengangkat tangan.


Doa Saat Ziarah


Apabila Anda berziarah kubur, saat memasuki area kuburan berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أهْلَ الدِّيَارِ، مِنَ الـمُؤْمِنِينَ، والـمُسْلِمِينَ، وَإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُونَ، - وَيَرْحَمُ اللَّهُ الـمُستَقْدِمينَ مِنَّا والـمُستأخِرينَ - أَسألُ اللَّهَ لنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ


“Salam kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian.Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang kemudian. Saya meminta ‘afiyah kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan selainnya)


Memintakan ‘afiyah untuk orang yang sudah wafat adalah agar Allah menyelamatkannya dari adzab dan meringankan hisab. Juga meminta agar Allah memberikan nikmat kubur.


Dianjurkan bagi peziarah agar banyak berdoa untuk penghuni kubur yang diziarahinya dan seluruh mayit dari kalangan kaum muslimin. Di antara doa terbaik adalah memintakan ampunan dan rahmat untuk mayit. Boleh ditambahkan doa-doa kebaikan untuk mayit seperti dilapangkan kuburnya, disinari kuburnya, dan kelak dimasukkan ke dalam surga. Wallahu A’lam.

Jumat, 10 Desember 2021

Ingat 5 Hal Ini Saat Lalai Dirikan Sholat Subuh

 


Di antara shalat-shalat yang ada, shalat subuh adalah yang mengawali hari. Ia adalah shalat yang paling penting yang harus dijaga betul pelaksanaannya, sebab tidak semua orang bisa konsisten, bahkan shalat ini terasa berat bagi orang-orang munafik.


Agar tetap semangat sholat subuh dan tidak lalai ingatlah 5 keistimewaan sholat subuh seperti berikut:


1. Dihitung seperti shalat semalam penuh. Nabi SAW bersabda,


مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ


“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)


2. Disaksikan para malaikat. Nabi SAW bersabda,


وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ


“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)


3. Shalat Shubuh Berkaitan dengan Pembagian Rezeki. Pernah suatu ketika Nabi SAW shalat subuh. Begitu selesai, beliau pun kembali ke rumah dan mendapati puterinya Fathimah ra sedang tidur. Maka beliau pun membalikkan tubuh Fatimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya :


“Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rizki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rizki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari.”


“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS.Ath Thalaq : 2-3)


4. Shalat subuh adalah kunci kemenangan. “Bahwa Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu subuh.” (HR Bukhari)


5. Lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. “Dua rakaat shalat subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR.Muslim dan Ahmad). Mengenai shalat dua rakaat sunah sebelum subuh Rasulullah bersabda, “Dua rakaat itu lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR.Muslim)

Inilah Sepuluh Sebab Do’a Tak Terkabulkan

 


Suatu hari, Ibrahim bin Adham melewati di pasar kota Basrah karena tiba-tiba orang-orang berkerumun di sekelilingnya. “Wahai Ibrahim! Allah Swt telah menyatakan dalam Al-Qur’an, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan untuk kalian (do’a kalian).’ Kami sudah berdoa kepada Allah Swt, tetapi doa kami tidak dikabulkan.” 

Ibrahim bin Adham menjawab, “Itu karena hati kalian telah tertutup sedemikian rupa oleh sepuluh hal, sehingga permohonan kalian tidak mempunyai ketulusan karena hati kalian sudah tak bening lagi dan tidak terbebas dari noda.”


Mereka bertanya, “Apa sepuluh hal itu?”


Ibrahim bin Adham menjawab, “Pertama, dan yang terutama sekali, kalian telah menerima Allah Swt, tetapi kalian tidak mewujudkan pengakuan terhadap-Nya.


“Kedua, kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mempraktikkannya.


“Ketiga, kalian menyatakan cinta kepada Rasul kalian, tetapi kalian menentang Ahlul baitnya.


“Keempat, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi dalam praktik, kalian setuju dengannya.


“Kelima, kalian mengatakan bahwa kalian merindukan raga, tetapi kalian tidak melakukan apa pun untuk bisa memasukinya.


“Keenam, kalian mengatakan bahwa kalian takut neraka, tapi kalian sendiri melemparkan diri kalian ke dalamnya.


“Ketujuh, kalian sibuk mencela dan mengkritik orang, tapi kalian sendiri tidak tahu kekurangan dan kalian sendiri.


“Kedelapan, kalian mengatakan bahwa kalian tidak mencintai duniawi, tetapi kalian rakus dan mencemburuinya.


“Kesembilan, kalian mengaku adanya kematian, tetapi kalian tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya.


“Kesepuluh, kalian telah menguburkan orang yang meninggal, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.


“Inilah sepuluh praktik yang menyebabkan doa kalian tetap tak terkabulkan.”


Doa adalah roda cadangan yang dikeluarkan ketika berada dalam masalah. Dan ia juga adalah roda terpasang yang mampu menjaga orang yang melakukannya, agar tetap berada di jalur yang benar di sepanjang hidupnya.

Kamis, 09 Desember 2021

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah, Inilah Keuntungannya

 


Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik.


Siapa yang meninggalkan budaya dan tradisi syirik, maka Allah akan menggantikannya dengan beribadah pada Allah semata. Shalatnya untuk Allah, sembelihan tumbalnya untuk Allah, dan sedekahnya jadinya untuk Allah.


Siapa yang meninggalkan ibadah yang tidak ada tuntunan karena Allah, maka Allah akan memberikan cahaya sunnah untuknya, jalan yang terang benderang yang jauh dari kesia-siaan.


Siapa yang meninggalkan pekerjaan yang haram, pekerjaan riba dan profesi yang mengundang laknat Allah, maka Allah akan ganti dengan pekerjaan yang halal yang lebih menentramkan jiwa.


Siapa yang meninggalkan pujaan hati yang belum halal karena Allah, maka Allah akan beri ganti dengan jodoh yang terbaik yang lebih menjaga kesucian diri.


Siapa yang meninggalkan nyanyian yang sia-sia dan musik yang banyak melalaikan, maka Allah akan ganti dengan hal yang lebih bermanfaat dan dijauhkan dari kemunafikan.


Siapa yang meninggalkan kecanduan rokok, miras, dan narkoba karena Allah, maka Allah ganti dengan kesehatan dan keselamatan pada jiwanya.


Faedah yang sangat berharga disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini tentang perihal yang kita kaji.


“Akan terasa sulit jika seseorang meninggalkan hal-hal yang ia sukai dan gandrungi, lantas ia meninggalkannya karena selain Allah.


Namun jika jujur dan ikhlas dari dalam hati dengan meninggalkannya karena Allah, maka tidak akan terasa berat untuk meninggalkan hal tadi. Yang terasa sulit cuma di awalnya saja sebagai ujian apakah hal tersebut sanggup untuk ditinggalkan. Apakah meninggalkan hal itu jujur ataukah dusta? Jika ia terus bersabar dengan menahan kesulitan yang hanya sedikit, maka ia akan memperoleh kelezatan.


Ibnu Sirin pernah berkata bahwa ia mendengar Syuraih bersumpah dengan nama Allah, hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka ia akan meraih apa yang pernah luput darinya.


Adapun perkataan “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diberi ganti yang lebih baik dari itu”, ganti yang diberikan di sini beraneka ragam. Akan tetapi ganti yang lebih besar yang diberi adalah kecintaan dan kerinduan pada Allah, ketenangan hati, keadaan yang terus mendapatkan kekuatan, terus memiliki semangat hidup, juga kebanggaan diri serta ridha pada Allah Ta’ala.” (Al Fawaid, hal. 166)


Luar biasa janji yang kan diberi.


Marilah saudaraku … cobalah berusaha meninggalkan sesuatu karena Allah, ingat karena Allah semata, maka rasakan bagaimanakah gentian luar biasa yang Allah berikan.


Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,


إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ


“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Adapun tidak disebutnya nama sahabat tetap tidak mencacati hadits tersebut karena seluruh sahabat itu ‘udul yaitu baik)


Bentuk gentian dari meninggalkan sesuatu yang haram disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits berikut ini.


Siapa yang meninggalkan penipuan dalam jual beli, maka Allah akan mendatangkan berkah pada jual belinya. Dalam hadits disebutkan,


الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا


“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaqun ‘alaih).


Siapa yang meninggalkan sifat pelit, maka ia akan mulia di sisi manusia dan ia akan menjadi orang-orang yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman,


وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghabun: 16)


Siapa yang meninggalkan sifat sombong dan memilih tawadhu’, maka Allah akan membuat ia meninggikan derajatnya di dunia. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ


“Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).


Siapa yang meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan yang lain, maka Allah pun akan menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا


“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya.” (HR. Muslim no. 2588).

Sholat Jenazah Mulai dari Niat hingga UrutanBacaan Ayat Tiap Takbir

  


Sholat Jenazah Mulai dari Niat hingga UrutanBacaan Ayat Tiap Takbir


BANGKAPOS.COM - Berikut ini ulasan lengkap mengenai sholat jenazah.


Penting mengetahui seluk beluk sholat jenazah mulai dari niat dan bacaannya untuk tiap takbir.


Seperti kita ketahui, sholat jenazah merupakan bagian dari fardhu kifayah pengurusan jenazah dalam Islam.


Karena itu penting bagi seorang muslim untuk mengetahui bagaima tata cara melaksanakan sholat jenazah.


Misal, bagaimana niatnya?


Lalu apa beda bacaanya antara mayit laki-laki dan perempuan .


Seperti diketahui, sholat jenazah dilaksanakan berbeda dengan sholat pada umumnya.


Dilaksanakan secara berdiri dan berjamaah, sholat jenazah memiliki perbedaan bacaan untuk mayit laki-laki dan perempuan.


Karena itu, penting bagi kita mengetahui bagaimana tata cara melakukan sholat jenazah yang benar.


Sebab, ini terkait dengan pengurusan jenazah dalam Islam.


Sholat Jenazah merupakan satu dari serangkaian fardu kifayah pengurusan jenazah selain memandikan, mengkafani, dan menguburkannya.


Sholat jenazah tak sama dengan sholat wajib atau sunnah lain pada umumnya.


Sholat ini misalnya memiliki perbedaan dari segi niat hingga bacaannya yang tergantung pada jenis kelamin jenazah yang disholatkan.


Nah, artikel ini akan mengulas bagaimana tata cara bacaan sholat jenazah mulai dari niat hingga bacaan doanya lengkap untuk empat kali takbir.


1. Shalat jenazah sama halnya dengan shalat yang lain, yaitu harus menutup 'aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap qiblat.


2. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.


3. Letak mayit sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau shalat dilakukan di atas kubur atau shalat ghaib.


Berdiri tegak sebagaimana akan mengerjakan shalat.


Dikutip dari Kementrian Agama RI dan berbagai sumber lainnya, berikut bacaan sholat jenazah mulai dari niat hingga salam:


1. Niat Sholat Jenazah untuk Mayit Laki-laki


Niat sholat jenazah untuk jenazah laki-laki sebagai berikut:


اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى


"Usholli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbirotin fardhu kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala."


Artinya: “Saya niat salat atas jenazah ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”


2. Niat Sholat Jenazah untuk Mayit Perempuan


Sementara niat sholat jenazah perempuan sebagai berikut:


اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى


"Usholli ‘ala hadzahihil mayyitati arba’a takbirotin fardhu kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala."


Urutan dan Bacaan Sholat Jenazah


Berikut ini tata cara atau urutan serta bacaaan sholat jenazah lengkap:


1. Takbir Pertama


Setelah takbiratui ihram, yakni setelah mengucapkan "ALLAHU AKBAR" bersamaan dengan niat, sambil meletakkan tangan, kanan diatas tangan kiri diatas perut (sedakep).


Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah (tidak membaca surat yang lain).


2. Takbir kedua


Setelah takbir yang kedua, terus membaca shalawat atas Nabi


اَللَٰهُمُّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ


ALLAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMADIN.


Artinya ;


"Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad".


Lebih sempurna bacalah shalawat sbb. :


أللهم صَلِّ علي محمد وعلي ألِ محمد كما صَلَيْتَ علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم وبارِكْ علي محمد وعلي أل محمد كما باركت علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد


ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMADIN W A ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA 'ALAA IBRAAHIIMA WA'ALAA AALI IBRAAHIIMA WABAARIK 'ALAA MUHAMMADIN WA'ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ALAA IBRAAHIIMA WA'ALAA AALI IBRAAHIIMA FIL 'AALAMIINA INNAKA HAMHDUM MAJHDUN.


Artinya :


"Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan timpanilah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. Di seluruh alam ini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia".


3. Takbir Ketiga


Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca do'a sekurang - kurangnya sbb. :


للّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (لَهَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَعَافِهِ (هَا) وَاعْفُ عَنْهُ (هَا


ALLAAHUMMAGHFIR LAHUU WARHAMHU WA'AAFIHI WA'FU 'ANHU.


Artinya :


"Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia".


Lebih sempurna membaca doa sebagai berikut:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار


ALLAAHUMMAGHFIR LAHU (LAHAA) WARHAMHU (HA) WA'AAFIHI (HA) WA'FU 'ANHU (HA) WAKRIM NUZUULAHU (HA) WAWASSI' MADKHALAHU (HA) WAGHSILHU (HA) BIL MAA I WATS TSALJI WALBARADI WANAQQIHI (HA) MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAOOATS TSAUBUL ABYADLU MINAD DANASI WABDILHU (HA) DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHH (HA) WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI (HA) WAZA UJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI (HA) WAQIHI (HA) FIT NATAL OABRI WA'ADZAABAN NAARI


Artinya :


"Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik dari pada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah (hindarkanlah) ia dari siksa kubur, dan adzab api neraka".


Keterangan: jika jenazah perempuan lafazh lahu menjadi laha dan seterusnya.


Jika mayit anak anak do'anya sbb :


اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ


ALLAAHUMMAJ'ALHU FARATHAN LI ABAWAIHI WA SALAFAN WADZUKHRAN WATZHATAN WATIBAARAN WASYAFIIAN WATSAQQIL BIHI MAWAAZIINAHUMAA WAFRIGHISHSHABRA ALA A QULUUBIHIMAA WALAA TAFTINHUMAA BA'DAHU WALAA TAHRIMNAA AJ RAHU.


Artinya :


"Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa 'at bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapanya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu-bapaaya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepenmggalkannya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya".


Baca juga: Doa atau Niat Sedekah untuk Anak Yatim


4. Takbir keempat


Selesai takbir keempat, membaca do'a sebagai berikut:


اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ


"Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu."


Artinya :


"Ya Allah, janganlah kiranya, pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau meluputkan kami - fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia''.


Lebih sempurna dan lengkap membaca do'a sebagai berikut:


اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلَاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَااِنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ


"Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba'da - hu waghfir lanaa walahu wali ikhwaaninal ladziina saba- quuna bil iimaani walaa taj'al fii quluubinaa ghillan lil- ladziina aamanuu rabbanaa innaka ra'uu fur rahiimun."


Artinya :


"Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah - Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi - saudar –saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau men - jadikan unek – unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang–orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".


Keterangan: jika jenazah perempuan lafazh lahu menjadi laha dan seterusnya.


5. Salam


Kemudian (selesai) memberi salam sambil memalingkan muka - ke kanan ke kiri dengan ucapan sebagai berikut


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْتُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ


"Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh."


Artinya :


''Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian''.


Doa setelah sholat jenazah


Berikut ini bacaan doa setelah sholat jenazah


اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ.اِعْتِقْ رِقَابَنَاوَرِقَابَ هٰذَاالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) مِنَ النَّارِ٣× اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَعَلٰى هٰذَالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) وَاجْعَلْ قَبْرَهٗ(هَا)رَوْضَةًمِنَ الْجَنَّةِ.وَلاَتَجْعَلْهُ لَهٗ (لَهَا) حُفْرَةًمِنَ النِّيْرَانِ.وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى خَيْرِخَلْقِهٖ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Tulisan latin


Bismillahirrohmaanirrohiim


Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil fatihati i'tiq riqaabanaa waqaaba haadzal mayyiti/haadzihil mayyitati minan naar, minan naar, minan naar.


Allahumma anzilir rahmata wal maghfirata 'alaa haadzal mayyiti/hadzihil mayyitati waj'al qabrahuu/haa roudhotan minal jannati wa laa taj'alhu lahuu/lahaa hufratan minanniiraani. Wa shollallahu 'alaa khoiri kholqihi sayyidinaa muhammadin wa aalihi washohbihii ajma'in. Walhamdulillahi rabbil 'aalamin.


Catatan:


Haadzal mayyiti (untuk jenazah laki-laki)


Hadzihil mayyiti (untuk jenazah perempuan)


Huu (untuk jenazah laki-laki)


Haa (untuk jenazah perempuan)


Artinya :


" Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al-Fatihah, bebaskanlah dosa kami dan 77 dosa mayit ini dari siksaan api neraka."


"Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampunan kepada - mayit ini. Dan jadikanlah tempat kuburnya taman yaman dari sorga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhlukNya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga nya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam"


Ilustrasi sholat jenazah

Keutamaan Menjawab Adzan yang Mungkin Tidak Anda Sadari



 Menjawab adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya:


1. Menjadi saksi kebaikan


Dari Abu Daid al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 609).


Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya.


2. Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga.


Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,


إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “


Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar


Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar


Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah..


Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah..


dst… hingga akhir adzan


siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya).


3. Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita


Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ


Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan,


وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا


Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada seukut baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku.


Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya)

Bagaimana misalnya jika kita ketiduran dan melewatkan shalat isya ? dan bagaimana cara menggantinya ?



Sebenarnya sudah ada hadis nabi Muhammad SAW yang secara tegas menjawab apa yang ditanyakan. Hadisnya sebagai berikut :


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إلَّا ذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


Dari Anas bin Malik RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan salat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaq alaihi).


Cara menggantinya bukan dikerjakan besok waktu salat subuh, itu kelamaan. Cara menggantinya adalah dengan langsung mengerjakan salat yang kelupaan atau ketiduran itu.


Tapi ada syaratnya. Apa syaratnya? Syaratnya, ya harus wudu dulu, jangan bangun tidur ku terus salat. Nanti salatnya tidak sah. Jadi begitu bangun tidur, ternyata ingat belum salat Isya misalnya, maka segeralah berwudu lalu salat Isya.


Walau sudah masuk waktu subuh. Dan urutannya memang harus salat Isya dulu baru salat Subuh. Kecuali bila waktu Subuh pun sudah hampir lewat, maka segera lakukan dulu salat Subuh baru salat Isya, biar tidak lewat dua-duanya.


Bagaimana kalau sudah lewat dua-duanya? Ini namanya sial bin apes, bukan cuma Isya yang lewat, eh ternyata subuh pun juga lewat. Lalu apa yang harus dilakukan?


Pertama, bangun dulu, kedua wudu, ketiga salat Isya, terus salat subuh. Lalu?


Lalu tobat, minta ampun dan janji tidak mengulangi lagi. Orang yang malas salat sampai lewat, wah balasannya seram. Akan dijebloskan di neraka Saqar. Namanya saja Saqar, kedengarannya sangar kan?


مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّين


Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat (QS. Al-Muddatstsir: 42-43).


Jadi upayakan jangan sampai terlambat salat, kalau tidak mau digebukin malaikat di dalam neraka Saqar. Dan kalau ternyata tanpa sengaja karena satu dan lain hal, ternyata terlambat juga, maka lakukan seperti yang telah dijelaskan di atas. Jangan sampai tidak diganti, sebab absen yang dipegang malaikat tidak pernah terhapus, semua pasti ada datanya.


Logikanya, dari pada absen itu kosong, mendingan terisi walau terlambat. Tetap saja ada beda besar sekali antara sama sekali tidak mengerjakan salat dengan mengerjakan salat tapi terlambat.

Apakah amalan buat seseorang yg baru menikah ?



Doa Untuk Pengantin Baru - Pernikahan merupakan ikatan lahir batin seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Nikah juga merupakan fitrah seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Untuk menjalani kehidupan berumah tangga berdasarkan tuntunan agama.


Dengan melakukan pernikahan akan menghalalkan hubungan badaniyah sebagaimana suami istri yang sah dan mengandung syarat-syarat serta rukun yang ditentukan dalam syariat agama Islam. Nikah juga merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan bermanfaat bagi kemaslahatan umum. Karena dengan menikah laki-laki dan perempuan dapat mengatur rumah tangga dengan baik dan nasib anak-anaknya pun mendapat perhatian penuh, maka dari itulah nikah diperintahkan dalam agama Islam.


Tujuan pernikahan tentunya untuk membina keluarga dan mendapatkan keturunan yang sah sesuai norma agama dan masyarakat, mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menikah juga dapat membentengi diri dari perbuatan maksiat, mendapatkan rasa kasih sayang antar sesama dan mengikuti sunnah Rasul. Dengan menikah maka akan memperluas tali persaudaraan karena mempersatukan keluarga dari pihak laki-laki dengan keluarga dari pihak perempuan. Selain itu juga, orang yang sudah berkeluarga akan dilipat gandakan pahala amalnya jika dibandingkan dengan yang belum menikah.


Agar tujuan tersebut tercapai oleh orang yang baru menikah atau pengantin baru. Selain mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Alangkah baiknya kita sebagai keluarga, kerabat, saudara dan teman saat menghadiri sebuah pernikahan mendoakannya. Berikut ini merupakan doa untuk orang yang baru menikah  atau pengantin baru lengkap dengan artinya.


Doa Untuk Pengantin Baru

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ


Barakallahu laka, wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair.


Artinya: "Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan." (HR. Abu Dawud)


Doa diatas merupakan doa yang diajarkan Rasulullah Saw kepada kita selaku umat Islam. Maksud doa tersebut agar kedua mempelai saat menjalani kehidupan berumah tangga mendapatkan berkah saat dalam keadaan susah maupun senang dan selalu dijalan kebaikan.


Doa-Doa Untuk Pengantin Yang Lainnya


Selain mengucapkan doa diatas ada doa lainnya yang dianjurkan saat menyantap hidangan di acara pernikahan. Berikut adalah bacaan doanya.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ، وَبَاِرِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ


Artinya : "Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah mereka pada apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka." (HR. Ahmad)


Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim. Meriwayatkan dengan lafadz


اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ


Artinya : "Ya Allah, berkahilah apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka, Ampunilah mereka dan sayangilah mereka." (HR. Muslim).


Bisa Juga dengan Lafadz Berikut ini.


اَللّٰهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ، وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ


Artinya: "Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang memberi makan kepadaku, dan berikanlah minum kepada orang yang memberi minum kepadaku."


Bisa juga dengan lafadz doa berikut ini


أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ


Artinya: "Telah berbuka di sisi kalian orang-orang yang berpuasa, dan telah menyantap makanan kalian orang-orang yang baik, dan para Malaikat telah mendoakan kalian."


Demikianlah mengenai Bacaan doa untuk pengantin baru dalam Islam beserta doa-doa lainnya dalam pernikahan. Semoga doa-doa diatas bisa bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita semua.


Sumber : doaharianislam.com

Rabu, 08 Desember 2021

Hikmah Doa Kita Tidak Dikabulkan



Berkaitan dengan doa, kita sebagai seorang muslim hendaknya senantiasa husnudzon pada Alloh dengan segala ketetapanNYA, baik yang telah berlalu, kini, ataupun nanti.


Sebab tolok ukur kebaikan bukanlah di mata kita, melainkan di mata Alloh Jalla wa ‘Alaa.


وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqoroh : 216)


Jadi, tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa kalau sakit itu sebagai penggugur dosa, lantas ia pasrah dengan sakitnya. Juga tidak cukup hanya dengan sabar saat mengetahui hajatnya belum dikabulkan oleh Alloh.


Sebab bagi seorang hamba selain berdoa ia juga harus memaksimalkan ikhtiar dan terus husnudzon padaNya.


Kalau kita masih berpikir kenapa tidak Alloh kabulkan saja hajat baik ini, toh didalamnya ada mashlahat besar?


Ini namanya kita belum benar-benar husnudzon dengan taqdir Alloh, karena masih mengira kebaikan itu dari sudut pandang kita.


Bisa jadi kita minta mobil dan tidak dikabulkan karena ada bibit sombong yang besar dalam diri kita, sedangkan Alloh tidak menyukai kesombongan.


Kita pun juga harus terus ikhtiar untuk mendapatkan hajat, betapapun kuatnya doa kita, betapapun besarnya husnudzon kita, tetap ikhtiar adalah syarat mutlak untuk mendapatkan hasil, sebagaimana firman Alloh:


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ


“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d 11)


Termasuk dalam hal ikhtiar sikap, adalah peka terhadap sinyal baik yang Alloh kirimkan melaluinya.


Misal:


– Jika ada seseorang yang ingin mejadi sholih dan sudah berdoa kepada Alloh, tapi ketika mendengar adzan justru berpaling dariNya, tidak menjawab seruanNya, bagaimana mungkin Alloh kabulkan yang demikian?


– Jika ada seseorang ingin menjadi pribadi yang sabar, sudah berdoa pada Alloh, namun saat sedang ada konflik dengan temannya ia justru menjadi tuli ketika mendengar nasihat, acuh saat ada yang melerai, maka bagaimana mungkin Alloh akan mengabulkannya?


»Ini seperti seseorang yang ingin minum kopi, tapi membuang gula yang ada di depannya, membuang gelas yang ada di sampingnya, dan melempar sendok yang ada di tangannya.


Kenapa? Karena ketika ia menginginkan kopi, ia berharap ada segelas kopi yang tiba-tiba muncul di hadapannya, instan! Padahal ketika Alloh mengirimkan gula di depannya itu adalah sinyal baik dan tanggapan atas doanya. Semuanya tetap butuh proses dan kesabaran!


Ingatlah, bahwa bisa jadi sikap kita yang tergesa-gesa itulah justru menjadi penghalang utama dari terkabulnya suatu doa, sebagaimana yang disampaikan oleh


Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,


يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى


“Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah lama berdoa, tetapi tidak kunjung dikabulkan’.” [Muttafaqun ‘Alaih]


Padahal kalau kita terus berdoa, sembari husnudzon dan ikhtiar yang disertai kesabaran, Insya Alloh akan diijabah hajat-hajat kita selama itu adalah sebuah kebaikan dan bukan pemutus silaturrohmi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا : إِذًا نُكْثِرُ ، قَالَ : اللَّهُ أَكْثَرُ.


“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Alloh akan memberikannya salah satu dari ketiga hal berikut: 


Alloh akan mengabulkannya dengan segera, mengakhirkan untuknya di akhirat atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya . Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa kami.” Beliau berkata, “Alloh lebih banyak lagi.” [HR Ahmad 11133]


Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang pandai mengambil hikmah dari setiap kisah pada kehidupan kita, menyadari bahwa Alloh memberi yang kita butuhkan dengan kacamata kebaikan menurutNya, bukan yang kita inginkan dengan kacamata kebaikan menurut kita. Sebab ketiga bentuk ijabah Alloh terhadap doa kita, semuanya pasti demi kebaikan kita .


Wallahu ‘Alam.

💠 ﷽ 💠 💠#rabu💠 💠08 DESEMBER 2021💠 💠04 JUMADIL AWAL 1443💠


 

Selasa, 07 Desember 2021

Wanita yg istiqomah itu seperti apa ?


1. Meluruskan niat


Sebelum seseorang melaksanakan ibadah ia tentunya harus berniat dalam hati. Dengan memiliki niat yang lurus dan hanya mengharapkan ridha Allah SWT maka seseorang akan lebih mudah menjalankan ibadahnya dan tidak mudah tergoda pada hal-hal yang bisa menghalangi ibadahnya. Niat juga merupakan penentu suatu ibadah dan ia mendapatkan pahala atau ganjaran sesuai dengan niat ibadah dalam hatinya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.


إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ


“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”.


-HR. Bukhari Muslim


Sesungguhnya, setiap perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan


niatkan.


2. Berdoa


Sebab terbesar yang mampu menopang seorang hamba untuk teguh diatas jalan hijrah adalah do’a. Oleh karena itu, do’a yang paling sering dilantunkan Rasulullah adalah :


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ


“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi )


Demikian pula Allah ta’ala mengabarkan pula bahwa di antara doa orang beriman adalah:


“Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Ali Imron: 147).


3.Memperbanyak Amal Shalih


Memperbanyak amal shalih termasuk perkara yang dapat meneguhkan langkah seorang hamba di atas jalan hijrah. Allah berfirman:


“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka.”


(QS. Al Baqoroh: 265).


Maka selain untuk menambah pundi-pundi pahala, amal shalih juga berfungsi untuk mengokohkan hati agar tegar di jalan hijrah.


4. Memperbanyak Baca Al-Qur’an


Perbanyaklah berinteraksi dengan Al-Qur’an, dengan membaca, mentadabburi, dan mengamalkannya. Sebab, selain kelak akan menjadi syafaat bagi hamba, Al-Qur’an juga dapat meneguhkan hati agar teguh ketika menapaki jalan hijrah.


Allah ta’ala berfirman:


“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl: 102).


5. Berteman Dengan Orang Shalih.


Jika seseorang ingin kebaikan maka hendaknya ia berteman dengan orang baik. Sebagaimana jika seseorang ingin pandai dalam berdagang, maka hendaknya berteman dengan para pedagang, bukan dengan para petani atau nelayan.


Bagaimana mungkin orang yang ingin taubat dari dosa zina, namun ia masih berkumpul dan berteman dengan para pezina. Atau ingin agar istiqomah dalam mengerjakan shalat, namun ia sering berpergian dengan teman yang tidak mengerjakan shalat.


Allah ta’ala berfirman :


“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”


(QS. Al Kahfi: 28).


Hal terpenting dalam masalah pertemanan ini adalah keberanian diri untuk menolak setiap tawaran teman yang berupaya menarik kita kembali ke jalan yang buruk.


6. Berteman Dengan Orang Shalih.


Jika seseorang ingin kebaikan maka hendaknya ia berteman dengan orang baik. Sebagaimana jika seseorang ingin pandai dalam berdagang, maka hendaknya berteman dengan para pedagang, bukan dengan para petani atau nelayan.


Bagaimana mungkin orang yang ingin taubat dari dosa zina, namun ia masih berkumpul dan berteman dengan para pezina. Atau ingin agar istiqomah dalam mengerjakan shalat, namun ia sering berpergian dengan teman yang tidak mengerjakan shalat.


Allah ta’ala berfirman:


“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”


(QS. Al Kahfi: 28).


Sumber :