Selasa, 14 Desember 2021

Stop Mengucapkan Kalimat Ini Kepada Anak

 


Sering tanpa orang tua sadari dalam kehidupan sehari-hari kita mengucapkan kalimat-kalimat yang memberikan dampak negatif terhadap anak, dampak yang mungkin terjadi boleh jadi tidak akan berlaku cepat dalam kehidupan anak, namun jika dilakukan terus menerus oleh orang tua sedikit demi sedikit akan mengakibatkan dan membangun perubahan karakter anak yang cenderung negatif dan tidak diinginkan oleh orang tua manapun. Berikut ini adalah beberapa kalimat yang harus dihindari tersebut:


Pergi! Jangan Ganggu Ayah/Ibu


Ketika Orang tua sedang melakukan kegiatan tertentu atau sedang tergesa–gesa sebaiknya sebagai Orang tua tidak seharusnya mengucapkan kalimat tersebut, karena Anak akan mencap dirinya tidak berguna dan hanya menjadi pengganggu. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, maka kebiasaan tersebut akan terbawa ketika anak sudah dewasa dan mengatakan hal yang sama kepada orang lain serta menjadi karakter anak yang tidak disukai orang lain.


Daripada mengucapkan kalimat tersebut sebaiknya Anda menjelaskan apa yang sedang Anda lakukan, seperti “Tunggu, Ibu sedang menjahit. Nanti setelah selesai Ibu akan menyusul”. Tanpa menyuruhnya pergi, anak akan langsung memahami kesibukan yang dilakukan Orang tua.


Dasar Kamu Pemalas


Seperti yang sering dinasehatkan Orang Tua dahulu “Ucapan Adalah Doa”, dengan memberi label anak dengan kata–kata negatif maka kalimat tersebut akan melekat pada diri mereka. Dan anak akan menganggap dirinya sendiri bodoh, pemalas, nakal dan sebagainya. Perbuatan yang harus dihindari ketika mendidik anak.


Sebaiknya Anda mengucapkan kalimat yang positif dan membangkitkan semangat anak, seperti “Kamu Anak yang Rajin”. Dengan begitu anak akan berusaha menjadi anak yang rajin karena melihat pengharapan Orang Tua yang besar terhadap dirinya.


Kenapa Kamu Tidak Seperti Dia


Membandingkan anak dengan kakak atau temannya tidak akan menjadikan sang anak menjadi lebih baik, justru hal tersebut akan mengurangi rasa percaya diri anak dan menyakitkan hatinya dan dapat berdampak terhadap kesulitan belajar dan mengganggu kesehatan mental dalam pertumbuhan sang Anak. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar dan memiliki tingkat kesabaran masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebaiknya Anda sebagai Orang Tua memberikan pujian agar mendorong sang anak melakukan hal tersebut.


Jangan Membantah


Kalimat ini sering diutarakan ketika Anda memarahi mereka lalu anak menjawab. Seharusnya dengarkan penjelasan yang diucapkan anak Anda, jangan menganggap itu sebuah bantahan. Karena hal tersebut merupakan proses kematian awal dari sebuah inisiatif yang mulai ditanamkan tanpa disadari oleh Orang Tua, anak akan seperti robot yang hanya akan mengikuti tanpa mengeluarkan pendapatnya.


Pokoknya Kamu Harus Nurut!


Mengawasi perilaku anak bukan berarti Anda membatasi ruang geraknya dengan mengikuti semua yang diperintahkan, tetapi tanpa memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan. Hal ini akan berpengaruh pada rasa percaya diri dan perkembangan anak serta bertentangan dengan cara melatih mental yang baik. Seharusnya Anda membebaskan aktivitas yang anak ingin lakukan, tentu dengan pengawasan.


Diam Disini, Diluar Ada Badut yang Menyeramkan


Melarang anak dengan cara menakut–nakuti bukan cara yang baik, hal ini akan membuat anak memiliki sifat penakut. Anakpun akan selalu berpikiran negatif tentang hal–hal yang Orang Tua sering takut-takuti terhadap Anak dan akan mudah cengeng.


Perkataan negatif akan menciptakan dampak yang negatif pula, maka dari itu Anda selaku orang tua sedapat mungkin mengucapkan kalimat–kalimat positif yang membangun rasa percaya diri anak sejak pendidikan anak usia dini. Karena bisa jadi anak memiliki perilaku yang buruk bukan karena sifat yang dimilikinya, tetapi akibat kalimat negatif yang sering Orang Tua ucapkan dan dari pendidikan keluarga. Jadi berhati–hatilah dalam berucap

Senin, 13 Desember 2021

Ancaman untuk Orang yang Memutuskan Silaturahmi



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


«لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ»


“Tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin menerangkan, bahwa praktek silaturrahim ini sesuai uruf (adat) yang berlaku, karena tidak diterangkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah macamnya, jenisnya, dan ukurannya. Dan karena Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi dengan sesuatu, bahkan memutlakkannya. Oleh karena itu, kembalinya ke uruf. Maka, apa saja yang dianggap uruf sebagai bentuk silaturrahmi, maka itu silaturrahmi, dan yang dianggap uruf sebagai memutuskan tali silaturrahmi, maka dianggap memutuskan (Sebagaimana disebutkan dalam Syarh Riyadhush Shalihin).


Di antara para kerabat yang kita diperintahkan menyambung tali silaturrahmi itu, ada yang bisa dihubungi setiap hari, ada yang sepekan sekali, ada yang sebulan sekali, atau pada kesempatan tertentu.


Praktek silaturrahmi juga disesuaikan dengan kondisi, yang lebih dekat nasabnya seperti ayah-ibu dan saudara tentu lebih didahulukan, dan yang lebih dekat tempat tinggalnya tentu berbeda dengan yang tempat tinggalnya jauh.


Menyambung tali silaturrahmi juga disesuaikan dengan kebutuhan kerabat kita dan kemampuan kita. Jika kerabat kita membutuhkan sesuatu dan kita mampu memberinya, maka menyambungnya adalah dengan memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الصَّدَقَةُ عَلَى المِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ


“Sedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua; yaitu sedekah dan silaturrahmi.” (HR. Nasa’i dan Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)


Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,


يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ


“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu lakukan, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 215)


Menyambung tali silaturrahmi juga bisa dengan memberinya harta, mengunjungi mereka, memperhatikan kondisi duniawi (ekonomi) maupun ukhrawi (agama), menanyakan kabar, menjenguknya jika sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, mendoakan, berkomunikasi baik lewat hp atau surat, mengadakan acara kumpul keluarga, dan lebih baik lagi jika diawali dengan taushiyah, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan lemah lembut, mendamaikan yang bertengkar, dsb.


Praktek Silaturrahmi

Bagaimana cara menghadapi orang-orang yg selalu mengejek kita ?



Allah Ta’ala berfirman,


فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖوَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ


“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaha: 130)


فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِوَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ


“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” (QS. Qaaf: 39-40)


وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَفَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَوَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ


“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal.” (QS. Al-Hijr: 97-99)


Ingatlah bahwa orang yang suka menghina, mencemooh, dan mencerca sebenarnya adalah orang yang sudah kalah, derajatnya berada di bawah kita.

 


Maka jangan sampai kita turun ke derajat mereka.


Allah Ta’ala berfirman,


فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ


“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)


فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖوَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ


“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.”(QS. Ar-Rum: 60)


Mengingatkan orang yang dicemooh atau dibicarakan jelek bahwa dia tidak sendirian dan bentuk penghinaan itu tidak diperuntukkan untuk dirinya sendiri.

 


Kita bisa renungkan ayat berikut,


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚقُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَلَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚإِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ


“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 65-66)


Kisah tentang ayat di atas disebutkan dalam hadits berikut ini.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah, disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”


(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”


Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”


Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah yang artinya), “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).


Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath-Thabariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)


Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai orang yang menghina ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti menghinan jenggot, cadar, atau celana di atas mata kaki, beliau lantas memberikan jawaban sebagai berikut.


“Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal), atau semacamnya yang hukumnya masih samar (bagi sebagian orang), maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.


Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Lihat Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hlm. 61-62)


Ingatlah bahwasanya dai yang dihina sebenarnya tidak sendirian, Allah akan membalas penghinaan yang dilakukan oleh orang yang mengolok-olok. Allah Ta’ala berfirman,


الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙسَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)


Edisi berikutnya insya Allah akan membahas bagaimanakah sikap orang Quraisy dalam menghadapi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara-cara fisik.


Semoga Allah beri kita kekuatan untuk terus bersabar.


Sumber: Rumahsyo

Bolehkah menggunakan parfum beralkohol untuk shalat ?



Bagi sebagian kalangan, barang encer dalam botol minyak wangi bisa menaikkan tingkat kepercayaan diri. Tetapi tidak sedikit mereka yang berjiwa besar tanpa mengenal parfum. Di antara keduanya, ada juga mereka yang mengenakan minyak wangi dalam tempo tertentu sesuai kehendak hati. Yang jelas, setiap mereka mengantongi alasan macam-macam.


Perdagangan cairan wangi asiri yang mudah menguap pada temperatur agak rendah ini bisa didapati di emper masjid, pasar tradisional, pasar swalayan, atau pasar-pasar malam dadakan. Pedagang minyak wangi biasanya menerakan minyak wangi yang tidak mengandung alkohol. “Nonalkohol,” dengan tulisan besar. Untuk yang beralkohol, biasanya tanpa keterangan apapun. Penggolongan keduanya bisa berasal dari pedagang, peracik, atau produsennya. Penggolongan ini sekurangnya membelah sikap warga.


Ada yang memilih nonalkohol untuk menenangkan hati jika mereka bersembayang. Pasalnya, ia menganggap najis zat alkohol yang digolongkan ke dalam khamar. Sedangkan yang lain mengambil parfum beralkohol di samping ada juga mereka yang tidak mengambil peduli.


Sikap di atas bisa dijelaskan secara hukum antara lain; pertama zat alkohol termasuk ke dalam khamar. Artinya alkohol sebagaimana khamar juga haram dan najis. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, alkohol hanya haram dikonsumsi, tetapi tidak najis digunakan untuk kepentingan parfum misalnya. “Alkohol tidak identik dengan khamar. Kekeliruan orang banyak mengidentikan keduanya. Padahal keduanya tidak selalu identik. Kalau alkohol diminum, ia baru disebut khamar. Tetapi sejauh digunakan untuk parfum, tidak menjadi apa,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani di Gedung PBNU jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (13/2). Sementara pendapat ketiga mengatakan, khamar itu tetap suci kendati tetap haram. Keterangan ini bisa didapat dari Syekh Abdul Wahab bin Ahmad Al-Ansori yang lazim dikenal As-Sya’roni dalam kitab Al-Mizanul Kubro berikut.


أجمع الأئمة علي نجاسة الخمر إلا ما حكي عن داود أنه قال بطهارتها مع تحريمها


“Para imam mujtahid sepakat atas najisnya khamar kecuali riwayat dari Imam Daud. Ia berpendapat, khamar itu suci meski haram untuk dikonsumsi.” Pendapat ini bisa berlaku bagi mereka yang mengidentikkan alkohol dan khamar. Wallahu A’lam.


Sumber: Islamnu

Minggu, 12 Desember 2021

Begini Cara Mengganti Puasa yang Tak Terhitung Jumlahnya, Ustadz Adi Hidayat: Anda Nggak Usah Hitung

 

PortalJember.com - Berikut ini penjelasan Ustadz Adi Hidayat tentang cara mengganti puasa yang sudah lama ditinggalkan.


Bahkan, cara ini pada dasarnya berfungsi untuk mengganti puasa wajib yang ditinggalkan dan sudah tak terhitung jumlahnya.


Sebaiknya ikuti penjelasan Ustadz Adi Hidayat ini sampai selesai agar tahu cara yang dimaksud.


Dilansir PortalJember.com dari video yang diunggah kanal YouTube Jalan Lurus pada Selasa, 11 Mei 2021 menjelaskan tentang cara mengganti puasa wajib itu.


Sebagai seorang manusia yang dibekali hawa nafsu oleh Allah, sudah sewajarnya melakukan dosa.


Pada dasarnya, dosa merupakan perilaku yang tak sesuai perintah Allah karena godaan setan yang memanfaatkan hawa nafsu.


Setan akan terus menerus menggoda manusia agar hidupnya semakin jauh dari perintah Allah SWT.


Akan tetapi, Allah juga tidak tinggal diam dengan perilaku setan yang semakin kuat untuk menggoda.


Allah akan memberikan hidayah kepada umat-Nya agar mau kembali kr jalan yang diridhoi-Nya.


Bahkan, Allah akan selalu memberikan petunjuk bagi orang yang mau bertaubat itu.


Salah satu dosa yang cukup banyak dilakukan oleh seorang manusia ialah meninggalkan puasa wajib.


Puasa wajib itu ditinggalkan karena beragam alasan yang tidak disertai dengan udzur syar'i, sehingga hukumnya dosa.


Menurut Ustadz Adi Hidayat, bagi orang yang ingin mengganti puasa wajibnya itu caranya cukup mudah.


Bahkan, bagi yang jumlah puasa wajibnya tidak terhitung sekalipun tetap ada jalan untuk menggantinya.


Adapun cara pertama yang bisa dilakukan ilaha menunaikan puasa saat ada waktu senggang.


"Boleh kemudian meniatkan qodho yang lampau di masa senggangnya, jadi silahkan kalau merasa tak terhitung anda punya waktu luang puasa silahkan," ujarnya.


Caranya hanya dengan menunaikan puasa di hari-hari sunnah, seperti Senin dan Kamis namun diniatkan untuk meng-qodho atau mengganti.


"Orang lain puasa Senin misalnya sunnah anda niatkan qodho, orang lain puasa Kamis sunnah anda niatkan qadha, anda nggak usah hitung," ujarnya.


Seseorang tak perlu menghitung jumlahnya karena Allah hanya melihat keseriusan seorang hamba untuk kembali.


"Maka Allah tidak melihat berapa banyak yang kita tinggalkan, tapi Allah melihat kesungguhan yang kita lakukan di sini," tutup Ustadz Adi Hidayat.***

Inilah Keutamaan Orang yang Menjauhi Syirik



Asal kita termasuk dalam kalangan ahli tauhid, yaitu orang yang tidak mengerjakan perbuatan syirik atau kalau sudah terjerumus dalam syirik lalu bertaubat, maka pasti masuk surga. Inilah keutamaan orang yang menjauhi perbuatan syirik, baik itu tradisi dan lainnya, maka pasti ia masuk surga apa pun amalnya, walaupun juga ia ahli maksiat. Ini juga menunjukkan bahwa amalan tauhid bisa menghapuskan berbagai dosa. 


Dari ‘Ubadah bin Ash Shomit, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ


“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 28)


Dalam lafazh Muslim disebutkan,


أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ


“Allah akan memasukkannya ke pintu surga mana saja dari delapan pintu yang ia suka.”


Maksud hadits ‘ala maa kaana minal ‘amal terdapat dua makna:


1- Allah akan memasukkannya ke dalam surga walaupun ia ahli maksiat dan penuh dosa karena orang yang bertauhid (tidak berbuat syirik) pasti masuk surga.


2- Allah akan memasukkannya dalam surga dan kedudukannya dalam surga tergantung amalnya.


Faedah dari hadits di atas:


1- Keutamaan tauhid dan tauhid bisa menghapuskan berbagai macam dosa.


2- Luasnya karunia dan kebaikan Allah pada hamba-Nya.


3- Wajib menjauhkan diri dari sikap melecehkan Rasul dan orang sholih, begitu pula sikap berlebihan terhadap mereka. Jika Rasul (utusan Allah), maka tidak boleh didustakan. Jika hamba, maka tidak boleh diangkat kedudukannya secara berlebihan.


4- Akidah tauhid menyelisihi agama kufur lainnya baik Nashrani, Yahudi atau agama orang musyrik.


5- Ahli tauhid namun penuh dosa tidak kekal dalam neraka.


6- Hal ini bukan berarti kita boleh meremehkan maksiat karena ahli tauhid yang menyempurnakan tauhidnya dengan menjauhi maksiat akan lebih mulia kedudukannya di surga dan lebih selamat dari siksa neraka.

Do’a Meminta Petunjuk dan Kebenaran



 Do’a Meminta Petunjuk dan Kebenaran


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ


“Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]


Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya,


قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ


“Ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]”. (HR. Muslim no. 2725)


Faedah hadits:


Pentingnya meminta hidayah yaitu berupa hidayah ilmu (berupa penjelasan) dan hidayah tawfiq (berupa petunjuk untuk beramal). Karena boleh jadi seseorang sudah mendapat penjelasan ilmu, namun belum bisa mengamalkannya.


Pentingnya meminta as sadaad, yaitu mencocoki kebenaran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keyakinan (i’tiqod).


Hendaklah setiap hamba banyak meminta tolong pada Allah dalam setiap urusannya.

Sabtu, 11 Desember 2021

Bolehkah Doa dengan Bahasa Sendiri dalam Shalat?



Berdoa bisa jadi dilakukan di luar shalat, bisa pula di dalam shalat misal saat sujud atau akhir shalat menjelang salam. Untuk doa di dalam shalat, sah-sah saja dilakukan. Bisa pula doa tersebut dengan bahasa sendiri. Namun baiknya di dalam shalat dengan bahasa Arab.


Para ulama berbeda pendapat mengenai doa dengan bahasa sendiri di dalam shalat. Pendapat yang lebih tepat adalah yang dipilih dalam madzhab mayoritas ulama selain Abu Hanifah bahwa doa selain dari Al Quran masih boleh dibaca.


Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Boleh saja berdoa di dalam shalat dengan doa yang tidak terdapat dalam Al Quran. Hal ini berbeda dengan pendapat ulama Hanafiyah.” (Fathul Bari, 2: 230).


Di antara dalil yang jadi pegangan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masih bolehnya membaca doa lainnya setelah tasyahud,


ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو


“Kemudian pilihlah doa pada Allah yang disukai, berdoalah.” (HR. Bukhari no. 835 dan Muslim no. 402).


Dalam riwayat Muslim disebutkan,


ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ


“Kemudian ia memilih memanjatkan doa masalah sesuai yang ia mau.” (HR. Muslim no. 402).


Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بِمَا بَدَا لَهُ


“Jika salah seorang di antara kalian melakukan tasyahud, maka mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal yaitu dari siksa Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejelekan Al Masih Ad Dajjal. Lalu berdoalah untuk dirinya yang ia suka.” (HR. Muslim no. 588 dan An Nasai no. 1311)


Dengan demikian, sah-sah saja berdoa dengan doa buatan sendiri. Namun berdoa di dalam shalat dengan redaksi buatan sendiri hendaknya dalam bahasa Arab, bukan dengan bahasa lainnya untuk menjaga kesakralan shalat dan inilah yang dicontohkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,


إِنَّ صَلَاتَنَا هَذِهِ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ


“Sesungguhnya shalat kita tidak boleh di dalamnya ada perkataan manusia. Yang ada dalam shalat hanyalah ucapan tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.” (HR. Muslim no. 537 dan An Nasai no. 1219). Sehingga kata Ibnu Qudamah, yang dimaksud hadits yang disebutkan sebelumnya adalah, “Pilihlah doa dalam shalat dengan doa yang telah ma’tsur (yang memiliki riwayat) atau semisalnya.” (Lihat bahasan dalam Al Mughni, 2: 237, terbitan Dar ‘Alamil Kutub). Jadi lebih hati-hati adalah berdoa denga doa yang sudah disebutkan dalam Al Quran dan Hadits, itu lebih selamat.

3 Perkara Ini Dilarang Nabi dalam Shalat



Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW dalam shalat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud.


Larangan itu dipertegas dengan sabdanya, ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan pandangannnya ke langit pada waktu shalat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka (dalam riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok),” (HR Bukhari, Muslim & Siraj).


Dalam hadits lain disebutkan, ”Apabila kalian melakukan shalat maka hendaknya janganlah menolah-noleh karena Allah akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika shalat selama ia tidak menolah-noleh,” (HR Tirmidzi dan Hakim).


Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang tiga perkara dalam shalat. Yaitu shalat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk di atas tumit seperti duduknya anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau SAW juga bersabda, ”Shalatlah seperti halnya shalat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu,” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).


Beliau telah shalat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullah SAW melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai shalat Beliau SAW bersabda, ”Bawalah bajuku ini kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm. Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian shalatku tadi. (dalam riwayat lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah melihat gambarnya saat shalat dan hampir saja aku tergoda),” (HR Bukhari, Muslim & Malik).

Bolehkah Perempuan Hanya Mengusap Kerudung Ketika Berwudhu



Allah swt berfirman yang artinya: “Dan usaplah kepalamu,” (QS Al-Maidah: 6).


Ketika berwudhu, ada satu rukun yang mengharuskan kita untuk mengusap bagian kepala dengan tangan yang basah.


Maksud dari mengusap kepala ini adalah membasahi tangan dengan air kemudian mengusapkannya ke kepala hingga rambut menjadi basah. Ada beberapa pendapat ulama mengenai mengusap bagian kepala ini, ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah mengusap sebagian kepala, ada juga yang berpendapat maksudnya adalah mengusap keseluruhan kepala.


Al-Hanafiyah berpendapat bahwa yang harus diusap tidaklah keseluruhan kepala, melainkan hanya sebagian dari kepala mulai dari ubun-ubun hingga atas telinga.


Sementara itu, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa yang wajib diusap di bagian kepala adalah seluruh bagian kepala dari depan sampai belakang. Bahkan, Al-Hanabilah juga mewajibkan untuk membasuh telinga di bagian belakang dan depannya, karena mereka beranggapan bahwa telinga juga merupakan bagian dari kepala.


Sedangkan Asy-syafi’iyah berpendapat bahwa yang wajib diusap dengan air pada saat berwudhu adalah sebagian dari kepala, meski yang basah hanya satu rambut saja.


Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya yang berjudul “Fathul Bari” mengatakan bahwa tidak diperbolehkan oleh para ulama jumhur untuk berwudhu hanya dengan mengusap kerudung tanpa disertai mengusap bagian rambut.


Namun demikian, ada juga beberapa ulama yang membolehkan berwudhu dengan mengusap kerudung. Di antaranya adalah Ibnu Mundzir dalam Al-Mughni (1/132) yang mengatakan, “Adapun kain penutup kepala wanita (kerudung) maka boleh mengusapnya karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya.”


Pendapat ini juga dikuatkan dengan hadits Al Mughirah bin Syu’bah bahwa Rasulullah Saw. Ketika berwudhu mengusap ubun-ubun dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala). (HR. Muslim)


Namun, beberapa ulama membantah pendapat ini dengan menyebutkan bahwa dalam hadits dikatakan bahwa Rasulullah Saw mengusap sebagian kepala lalu mengusap sorbannya. Yang artinya, Rasulullah tak hanya mengusap sorbannya saja ketika berwudhu, tapi juga kepalanya.


Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah mengatakan, “Adapun jika tidak ada kebutuhan akan hal tersebut (berwudhu dengan tetap memakai kerudung) maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama (yaitu boleh berwudhu dengan tetap memakai kerudung ataukah harus melepas kerudung).”(Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah (21/218)


Bagi kita masyarakat Muslim Indonesia yang bermahdzab Syafi’i, sebaiknya kita mengikuti Asy-syafi’iyah, bahwa yang kita lakukan saat berwudhu adalah mengusap sebagian dari kepala, meski hanya satu rambut saja.


Jadi, ketika kita berwudhu di tempat yang terbuka dan memungkinkan terlihat oleh orang yang bukan muhrim, kita tidak perlu membuka kerudung, cukup memasukkan tiga jari yang sudah dibasahi air ke dalam kerudung bagian atas, sehingga sedikit dari rambut kita bisa terbasahi oleh air wudhu. Wallahu ‘alaam bisshawab.

Cara Mendoakan Orang Tua yang Sudah Tiada



Cara Mendoakan Orang Tua yang Sudah Tiada


Soal:


Assalamu ‘Alaikum . . . Ustadz,, bagaimanakah cara kita mendoakan orang tua kita yang sudah meninggal yang sesuai syariah? Juga tata cara kita bila berdoa ke makam (kuburan)..


Jawab: 


Wa’alaikumus Salam Warahmatullah,, Akhi yang mulia. Kita memuji Allah dan bersholawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.


Memintakan ampunan dan doa kebaikan untuk orang tua termasuk hak orang tua atas anak-anaknya. Termasuk bentuk birrul walidain dan berbuat baik kepada keduanya yang memiliki pahala sangat besar di sisi Allah Ta’ala.


Mendoakan orang tua kita yang sudah tiada dengan memintakan ampunan dan rahmat untuknya. Redaksi yang bisa kita pilih dari Al-Qur'an antara lain,


رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ


“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)


Bisa juga dengan doa yang sudah sangat masyhur,


رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْراً


“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka telah mengasuhku sejak kecil.”


Sebagaimana doa Nabi Nuh ‘alaihis salam,


رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ 


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku. . . ” (QS. Nuuh: 28)


Juga perintah untuk memintakan rahmat bagi orang tua,


وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا


“Dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)


Doa-doa ini bisa dibaca dalam shalat atau di luar shalat. Bisa dibaca saat berada di tempat atau waktu mustajab.


Ketika di luar shalat disempurnakan dengan adab-adab lainnya; salah satunya dengan mengangkat tangan.


Doa Saat Ziarah


Apabila Anda berziarah kubur, saat memasuki area kuburan berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أهْلَ الدِّيَارِ، مِنَ الـمُؤْمِنِينَ، والـمُسْلِمِينَ، وَإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُونَ، - وَيَرْحَمُ اللَّهُ الـمُستَقْدِمينَ مِنَّا والـمُستأخِرينَ - أَسألُ اللَّهَ لنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ


“Salam kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian.Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang kemudian. Saya meminta ‘afiyah kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan selainnya)


Memintakan ‘afiyah untuk orang yang sudah wafat adalah agar Allah menyelamatkannya dari adzab dan meringankan hisab. Juga meminta agar Allah memberikan nikmat kubur.


Dianjurkan bagi peziarah agar banyak berdoa untuk penghuni kubur yang diziarahinya dan seluruh mayit dari kalangan kaum muslimin. Di antara doa terbaik adalah memintakan ampunan dan rahmat untuk mayit. Boleh ditambahkan doa-doa kebaikan untuk mayit seperti dilapangkan kuburnya, disinari kuburnya, dan kelak dimasukkan ke dalam surga. Wallahu A’lam.

Jumat, 10 Desember 2021

Ingat 5 Hal Ini Saat Lalai Dirikan Sholat Subuh

 


Di antara shalat-shalat yang ada, shalat subuh adalah yang mengawali hari. Ia adalah shalat yang paling penting yang harus dijaga betul pelaksanaannya, sebab tidak semua orang bisa konsisten, bahkan shalat ini terasa berat bagi orang-orang munafik.


Agar tetap semangat sholat subuh dan tidak lalai ingatlah 5 keistimewaan sholat subuh seperti berikut:


1. Dihitung seperti shalat semalam penuh. Nabi SAW bersabda,


مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ


“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)


2. Disaksikan para malaikat. Nabi SAW bersabda,


وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ


“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)


3. Shalat Shubuh Berkaitan dengan Pembagian Rezeki. Pernah suatu ketika Nabi SAW shalat subuh. Begitu selesai, beliau pun kembali ke rumah dan mendapati puterinya Fathimah ra sedang tidur. Maka beliau pun membalikkan tubuh Fatimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya :


“Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rizki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rizki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari.”


“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS.Ath Thalaq : 2-3)


4. Shalat subuh adalah kunci kemenangan. “Bahwa Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu subuh.” (HR Bukhari)


5. Lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. “Dua rakaat shalat subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR.Muslim dan Ahmad). Mengenai shalat dua rakaat sunah sebelum subuh Rasulullah bersabda, “Dua rakaat itu lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR.Muslim)

Inilah Sepuluh Sebab Do’a Tak Terkabulkan

 


Suatu hari, Ibrahim bin Adham melewati di pasar kota Basrah karena tiba-tiba orang-orang berkerumun di sekelilingnya. “Wahai Ibrahim! Allah Swt telah menyatakan dalam Al-Qur’an, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan untuk kalian (do’a kalian).’ Kami sudah berdoa kepada Allah Swt, tetapi doa kami tidak dikabulkan.” 

Ibrahim bin Adham menjawab, “Itu karena hati kalian telah tertutup sedemikian rupa oleh sepuluh hal, sehingga permohonan kalian tidak mempunyai ketulusan karena hati kalian sudah tak bening lagi dan tidak terbebas dari noda.”


Mereka bertanya, “Apa sepuluh hal itu?”


Ibrahim bin Adham menjawab, “Pertama, dan yang terutama sekali, kalian telah menerima Allah Swt, tetapi kalian tidak mewujudkan pengakuan terhadap-Nya.


“Kedua, kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mempraktikkannya.


“Ketiga, kalian menyatakan cinta kepada Rasul kalian, tetapi kalian menentang Ahlul baitnya.


“Keempat, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi dalam praktik, kalian setuju dengannya.


“Kelima, kalian mengatakan bahwa kalian merindukan raga, tetapi kalian tidak melakukan apa pun untuk bisa memasukinya.


“Keenam, kalian mengatakan bahwa kalian takut neraka, tapi kalian sendiri melemparkan diri kalian ke dalamnya.


“Ketujuh, kalian sibuk mencela dan mengkritik orang, tapi kalian sendiri tidak tahu kekurangan dan kalian sendiri.


“Kedelapan, kalian mengatakan bahwa kalian tidak mencintai duniawi, tetapi kalian rakus dan mencemburuinya.


“Kesembilan, kalian mengaku adanya kematian, tetapi kalian tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya.


“Kesepuluh, kalian telah menguburkan orang yang meninggal, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.


“Inilah sepuluh praktik yang menyebabkan doa kalian tetap tak terkabulkan.”


Doa adalah roda cadangan yang dikeluarkan ketika berada dalam masalah. Dan ia juga adalah roda terpasang yang mampu menjaga orang yang melakukannya, agar tetap berada di jalur yang benar di sepanjang hidupnya.

Kamis, 09 Desember 2021

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah, Inilah Keuntungannya

 


Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik.


Siapa yang meninggalkan budaya dan tradisi syirik, maka Allah akan menggantikannya dengan beribadah pada Allah semata. Shalatnya untuk Allah, sembelihan tumbalnya untuk Allah, dan sedekahnya jadinya untuk Allah.


Siapa yang meninggalkan ibadah yang tidak ada tuntunan karena Allah, maka Allah akan memberikan cahaya sunnah untuknya, jalan yang terang benderang yang jauh dari kesia-siaan.


Siapa yang meninggalkan pekerjaan yang haram, pekerjaan riba dan profesi yang mengundang laknat Allah, maka Allah akan ganti dengan pekerjaan yang halal yang lebih menentramkan jiwa.


Siapa yang meninggalkan pujaan hati yang belum halal karena Allah, maka Allah akan beri ganti dengan jodoh yang terbaik yang lebih menjaga kesucian diri.


Siapa yang meninggalkan nyanyian yang sia-sia dan musik yang banyak melalaikan, maka Allah akan ganti dengan hal yang lebih bermanfaat dan dijauhkan dari kemunafikan.


Siapa yang meninggalkan kecanduan rokok, miras, dan narkoba karena Allah, maka Allah ganti dengan kesehatan dan keselamatan pada jiwanya.


Faedah yang sangat berharga disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini tentang perihal yang kita kaji.


“Akan terasa sulit jika seseorang meninggalkan hal-hal yang ia sukai dan gandrungi, lantas ia meninggalkannya karena selain Allah.


Namun jika jujur dan ikhlas dari dalam hati dengan meninggalkannya karena Allah, maka tidak akan terasa berat untuk meninggalkan hal tadi. Yang terasa sulit cuma di awalnya saja sebagai ujian apakah hal tersebut sanggup untuk ditinggalkan. Apakah meninggalkan hal itu jujur ataukah dusta? Jika ia terus bersabar dengan menahan kesulitan yang hanya sedikit, maka ia akan memperoleh kelezatan.


Ibnu Sirin pernah berkata bahwa ia mendengar Syuraih bersumpah dengan nama Allah, hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka ia akan meraih apa yang pernah luput darinya.


Adapun perkataan “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diberi ganti yang lebih baik dari itu”, ganti yang diberikan di sini beraneka ragam. Akan tetapi ganti yang lebih besar yang diberi adalah kecintaan dan kerinduan pada Allah, ketenangan hati, keadaan yang terus mendapatkan kekuatan, terus memiliki semangat hidup, juga kebanggaan diri serta ridha pada Allah Ta’ala.” (Al Fawaid, hal. 166)


Luar biasa janji yang kan diberi.


Marilah saudaraku … cobalah berusaha meninggalkan sesuatu karena Allah, ingat karena Allah semata, maka rasakan bagaimanakah gentian luar biasa yang Allah berikan.


Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,


إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ


“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih. Adapun tidak disebutnya nama sahabat tetap tidak mencacati hadits tersebut karena seluruh sahabat itu ‘udul yaitu baik)


Bentuk gentian dari meninggalkan sesuatu yang haram disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits berikut ini.


Siapa yang meninggalkan penipuan dalam jual beli, maka Allah akan mendatangkan berkah pada jual belinya. Dalam hadits disebutkan,


الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا


“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaqun ‘alaih).


Siapa yang meninggalkan sifat pelit, maka ia akan mulia di sisi manusia dan ia akan menjadi orang-orang yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman,


وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghabun: 16)


Siapa yang meninggalkan sifat sombong dan memilih tawadhu’, maka Allah akan membuat ia meninggikan derajatnya di dunia. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ


“Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).


Siapa yang meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan yang lain, maka Allah pun akan menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا


“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya.” (HR. Muslim no. 2588).

Sholat Jenazah Mulai dari Niat hingga UrutanBacaan Ayat Tiap Takbir

  


Sholat Jenazah Mulai dari Niat hingga UrutanBacaan Ayat Tiap Takbir


BANGKAPOS.COM - Berikut ini ulasan lengkap mengenai sholat jenazah.


Penting mengetahui seluk beluk sholat jenazah mulai dari niat dan bacaannya untuk tiap takbir.


Seperti kita ketahui, sholat jenazah merupakan bagian dari fardhu kifayah pengurusan jenazah dalam Islam.


Karena itu penting bagi seorang muslim untuk mengetahui bagaima tata cara melaksanakan sholat jenazah.


Misal, bagaimana niatnya?


Lalu apa beda bacaanya antara mayit laki-laki dan perempuan .


Seperti diketahui, sholat jenazah dilaksanakan berbeda dengan sholat pada umumnya.


Dilaksanakan secara berdiri dan berjamaah, sholat jenazah memiliki perbedaan bacaan untuk mayit laki-laki dan perempuan.


Karena itu, penting bagi kita mengetahui bagaimana tata cara melakukan sholat jenazah yang benar.


Sebab, ini terkait dengan pengurusan jenazah dalam Islam.


Sholat Jenazah merupakan satu dari serangkaian fardu kifayah pengurusan jenazah selain memandikan, mengkafani, dan menguburkannya.


Sholat jenazah tak sama dengan sholat wajib atau sunnah lain pada umumnya.


Sholat ini misalnya memiliki perbedaan dari segi niat hingga bacaannya yang tergantung pada jenis kelamin jenazah yang disholatkan.


Nah, artikel ini akan mengulas bagaimana tata cara bacaan sholat jenazah mulai dari niat hingga bacaan doanya lengkap untuk empat kali takbir.


1. Shalat jenazah sama halnya dengan shalat yang lain, yaitu harus menutup 'aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap qiblat.


2. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.


3. Letak mayit sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau shalat dilakukan di atas kubur atau shalat ghaib.


Berdiri tegak sebagaimana akan mengerjakan shalat.


Dikutip dari Kementrian Agama RI dan berbagai sumber lainnya, berikut bacaan sholat jenazah mulai dari niat hingga salam:


1. Niat Sholat Jenazah untuk Mayit Laki-laki


Niat sholat jenazah untuk jenazah laki-laki sebagai berikut:


اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى


"Usholli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbirotin fardhu kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala."


Artinya: “Saya niat salat atas jenazah ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”


2. Niat Sholat Jenazah untuk Mayit Perempuan


Sementara niat sholat jenazah perempuan sebagai berikut:


اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى


"Usholli ‘ala hadzahihil mayyitati arba’a takbirotin fardhu kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala."


Urutan dan Bacaan Sholat Jenazah


Berikut ini tata cara atau urutan serta bacaaan sholat jenazah lengkap:


1. Takbir Pertama


Setelah takbiratui ihram, yakni setelah mengucapkan "ALLAHU AKBAR" bersamaan dengan niat, sambil meletakkan tangan, kanan diatas tangan kiri diatas perut (sedakep).


Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah (tidak membaca surat yang lain).


2. Takbir kedua


Setelah takbir yang kedua, terus membaca shalawat atas Nabi


اَللَٰهُمُّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ


ALLAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMADIN.


Artinya ;


"Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad".


Lebih sempurna bacalah shalawat sbb. :


أللهم صَلِّ علي محمد وعلي ألِ محمد كما صَلَيْتَ علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم وبارِكْ علي محمد وعلي أل محمد كما باركت علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد


ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA MUHAMMADIN W A ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA 'ALAA IBRAAHIIMA WA'ALAA AALI IBRAAHIIMA WABAARIK 'ALAA MUHAMMADIN WA'ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ALAA IBRAAHIIMA WA'ALAA AALI IBRAAHIIMA FIL 'AALAMIINA INNAKA HAMHDUM MAJHDUN.


Artinya :


"Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan timpanilah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. Di seluruh alam ini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia".


3. Takbir Ketiga


Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca do'a sekurang - kurangnya sbb. :


للّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (لَهَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَعَافِهِ (هَا) وَاعْفُ عَنْهُ (هَا


ALLAAHUMMAGHFIR LAHUU WARHAMHU WA'AAFIHI WA'FU 'ANHU.


Artinya :


"Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia".


Lebih sempurna membaca doa sebagai berikut:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّار


ALLAAHUMMAGHFIR LAHU (LAHAA) WARHAMHU (HA) WA'AAFIHI (HA) WA'FU 'ANHU (HA) WAKRIM NUZUULAHU (HA) WAWASSI' MADKHALAHU (HA) WAGHSILHU (HA) BIL MAA I WATS TSALJI WALBARADI WANAQQIHI (HA) MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAOOATS TSAUBUL ABYADLU MINAD DANASI WABDILHU (HA) DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHH (HA) WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI (HA) WAZA UJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI (HA) WAQIHI (HA) FIT NATAL OABRI WA'ADZAABAN NAARI


Artinya :


"Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik dari pada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah (hindarkanlah) ia dari siksa kubur, dan adzab api neraka".


Keterangan: jika jenazah perempuan lafazh lahu menjadi laha dan seterusnya.


Jika mayit anak anak do'anya sbb :


اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًَا لِاَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَاَفْرِغِ الصَّبْرَعَلىٰ قُلُوْبِهِمَا وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلاَ تَحْرِ مْهُمَا اَجْرَهُ


ALLAAHUMMAJ'ALHU FARATHAN LI ABAWAIHI WA SALAFAN WADZUKHRAN WATZHATAN WATIBAARAN WASYAFIIAN WATSAQQIL BIHI MAWAAZIINAHUMAA WAFRIGHISHSHABRA ALA A QULUUBIHIMAA WALAA TAFTINHUMAA BA'DAHU WALAA TAHRIMNAA AJ RAHU.


Artinya :


"Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa 'at bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapanya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu-bapaaya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepenmggalkannya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya".


Baca juga: Doa atau Niat Sedekah untuk Anak Yatim


4. Takbir keempat


Selesai takbir keempat, membaca do'a sebagai berikut:


اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَناَ وَلَهُ


"Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu."


Artinya :


"Ya Allah, janganlah kiranya, pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau meluputkan kami - fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia''.


Lebih sempurna dan lengkap membaca do'a sebagai berikut:


اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلَاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَااِنَّكَ رَؤُفٌ رَّحِيْمٌ


"Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba'da - hu waghfir lanaa walahu wali ikhwaaninal ladziina saba- quuna bil iimaani walaa taj'al fii quluubinaa ghillan lil- ladziina aamanuu rabbanaa innaka ra'uu fur rahiimun."


Artinya :


"Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah - Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi - saudar –saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau men - jadikan unek – unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang–orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".


Keterangan: jika jenazah perempuan lafazh lahu menjadi laha dan seterusnya.


5. Salam


Kemudian (selesai) memberi salam sambil memalingkan muka - ke kanan ke kiri dengan ucapan sebagai berikut


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْتُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ


"Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh."


Artinya :


''Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian''.


Doa setelah sholat jenazah


Berikut ini bacaan doa setelah sholat jenazah


اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ.اِعْتِقْ رِقَابَنَاوَرِقَابَ هٰذَاالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) مِنَ النَّارِ٣× اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَعَلٰى هٰذَالْمَيِّتِ (هٰذِهِ الْمَيِّتَتِ) وَاجْعَلْ قَبْرَهٗ(هَا)رَوْضَةًمِنَ الْجَنَّةِ.وَلاَتَجْعَلْهُ لَهٗ (لَهَا) حُفْرَةًمِنَ النِّيْرَانِ.وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى خَيْرِخَلْقِهٖ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Tulisan latin


Bismillahirrohmaanirrohiim


Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa muhammad. Allahumma bihaqqil fatihati i'tiq riqaabanaa waqaaba haadzal mayyiti/haadzihil mayyitati minan naar, minan naar, minan naar.


Allahumma anzilir rahmata wal maghfirata 'alaa haadzal mayyiti/hadzihil mayyitati waj'al qabrahuu/haa roudhotan minal jannati wa laa taj'alhu lahuu/lahaa hufratan minanniiraani. Wa shollallahu 'alaa khoiri kholqihi sayyidinaa muhammadin wa aalihi washohbihii ajma'in. Walhamdulillahi rabbil 'aalamin.


Catatan:


Haadzal mayyiti (untuk jenazah laki-laki)


Hadzihil mayyiti (untuk jenazah perempuan)


Huu (untuk jenazah laki-laki)


Haa (untuk jenazah perempuan)


Artinya :


" Ya Allah, curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, dengan berkahnya surat Al-Fatihah, bebaskanlah dosa kami dan 77 dosa mayit ini dari siksaan api neraka."


"Ya Allah, curahkanlah rahmat dan berilah ampunan kepada - mayit ini. Dan jadikanlah tempat kuburnya taman yaman dari sorga dan janganlah Engkau menjadikan kuburnya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada semulia-mulia makhlukNya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga nya serta sahabat-sahabatnya sekalian, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam"


Ilustrasi sholat jenazah