Senin, 25 Mei 2020

Rasulullah SAW bersabda,


Ini Pesan Rasulullah Agar Setan Tak Ganggu Shalat Kita Setan itu mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika manusia berbuat hal-hal yang negatif, maka ia sedang digoda oleh setan. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan iman agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk. Dalam Kitab Thanbihul Ghafilin dikisahkan bahwa apabila setan-setan itu sukses membuat manusia enggan melaksanakan shalat, maka setan itu akan menerima pujian dan dimuliakan di hadapan iblis. Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain. Dan begitu juga sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap tugas ini. Ada setan spesialis yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama “Khanzab”. Utsman bin Affan pernah bertanya kepada Raulullah SAW, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Rasulullah SAW bersabda, “Itulah setan Khanzab, jika engkau merasakan kehadirannya, maka bacalah ta’awud kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali,” (HR. Ahmad).

Minggu, 24 Mei 2020

Memanjangkan Kuku Haram? Benarkah? SEBAGIAN orang menyukai kuku yang panjang lagi bersih, merawat kuku panjang menjadi kesenangan bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya bagaimana Islam memandang perkara ini? Bagaimana hukum memanjangkan kuku dalam Islam? Islam mengajarkan akan kemuliaan manusia. Sementara memanjangkan kuku, identik dengan binatang. Karena itu, islam melarang umatnya memanjangkan kuku. Untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai manusia yang berbeda dengan binatang. Abu Ayyub Al Azdi menceritakan “Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya pada beliau mengenai berita langit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ada orang diantara kalian yang bertanya tentang berita langit, sementara dia biarkan kukunya panjang seperti cakar burung, dengan kuku itu, burung mengumpulkan janabah dan kotoran,” (HR. Ahmad 23542, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 861, dan hadis ini dinilai dhaif oleh Syuaib al-Arnauth). Untuk itulah, bagian dari ajaran para nabi, mereka tidak membiarkan kuku mereka. Mereka memotong kuku mereka, karena ini yang sesuai fitrah manusia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak,” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 258). Jangan Biarkan Panjang! Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batas waktu kepada para sahabat, agar kuku mereka tidak dibiarkan panjang. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, agar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari,” (HR. Muslim 258). Batas yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatnya umum, berlaku untuk semua bagian badan yang dianjurkan untuk dipotong. Hanya saja, jika kuku dibiarkan sampai 40 hari, tentu akan sangat mengerikan. Sehingga untuk kuku, yang menj
Ini Ucapan Selamat Idulfitri Sesuai Sunah Rasulullah Banyak cara orang mengucapkan Hari Raya Idulfitri. Yang sering terdengar adalah 'Minal Aidin wal Faidzin'. Lalu, bagaimana ucapan Idulfitri yang sesuai sunah Rasulullah? Dari Jubair bin Nufair, ia mengatakan bahwa ketika para sahabat Rasululllah berjumpa dengan Hari Raya Idulfitri, mereka pun saling mengucapkan kalimat "taqabbalallahu minna wa minkum". Ucapan Idulfitri 'taqabbalallahu minna wa minkum' memiliki arti "semoga Allah menerima amalku dan amal kalian". Dikutip dari jumanto.com, berikut ini beberapa redaksi ucapan doa dalam hari raya baik panjang maupun pendek. 1. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Arab Pendek Versi yang pertama adalah yang paling mudah untuk diucapkan karena pendek dan sudah familiar kita dengar saat lebaran atau saat ada orang membaca doa tahlilan. Berikut ini tulisan taqabbalallahu minna waminkum dalam bahasa arab: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ Arti dari taqabbalallahu minna waminkum: “mudah-mudahan Allah menerima (amal ibadah) kita dan kalian“. Karena diucapkan selepas Ramadhan, tentu saja maksudnya berharap agar amal ibadah kita dan orang yang kita ajak bicara selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah. 2. Taqabbalallohu Minna Waminkum Wataqobbal Ya Karim Untuk versi yang agak panjang, ada juga yang menambahkan dengan mengucapkan doa lengkap berikut: taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim. تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ artinya kurang lebih: “mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita dan kamu semua, dan terimalah ya (Allah) yang maha Mulia“. 3. Taqabbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ Artinya kurang lebih: “Semoga Allah menerima kita dan kamu semua, puasa kita dan puasa kamu semua“. 4. Versi Ucapan Selamat Idul Fitri Yang Panjang Lengkap Ada juga yang menggunakan lafaz doa lebih panjang lagi yaitu: Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ Atau versi yang paling panjang sebagai berikut: Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ Artinya kurang lebih“semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu, Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu semua senantiasa dalam kebaikan.” Selain itu ada juga yang menggunakan versi lain yaitu taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum kullu aam wa antum bikhair. Jawaban Ucapan Taqabbalallahu Minna Waminkum Jika ada yang memberikan doa taqabbalallahu minna wa minkum kepada kita, kita bisa menjawabnya dengan “minna waminkum taqobbal ya karim”. Arti kalimat tersebut kurang lebih “Ya Allah Yang Maha Mulia terimalah amal kami dan kamu”. Jadi dua-duanya sama-sama mendoakan dan insya Allah Maqbul. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Kamis, 21 Mei 2020

Doa 'Disehatkan Badan, Mata,& Telinga' Dibaca 3 Kali di Pagi dan Sore

 Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, ia bekata kepada ayahnya, "Wahai Ayah, mengapa aku selalu mendengar Ayah membaca sebuah doa dan mengulang-ulangnya sampai tiga kali setiap pagi dan sore?" اَللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَدَنِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى سَمْعِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَصَرِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَاَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ “Ya Allah, sehatkanlah tubuhku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kekafiran dan kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari siksa kubur, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau." Abu Bakrah menjawab, إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدْعُو بِهِنَّ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa dengan doa itu, maka aku suka mengikuti sunnahnya.” (HR. Abu Dawud, no. 5090. Syaikh Al-Albani menilainya sebagai “hasanul Isnad”. Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Bazza menghassankan isnadnya di Tuhfah al-Akhyar: 26) Keterangan Doa Kesempurnaan ibadah seorang hamba sangat berkait dengan kesehatan fisik, mata dan telinga. Karenanya, kita temukan juga doa lain agar senantiasa diberi kenikmatan pada pendengaran, penglihatan, dan kekuatan fisik. Sedangkan nilai kemuliaan kita terletak kepada ubudiyah kita kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala. Sehingga sangat penting sekali doa ini bagi yang menyadari pentingnya ibadah bai dirinya. Al-Afiyah dari Allah kepada fisik berarti dijauhkan dari berbagai penyakit dan bala’. Sehingga fungsinya tetap baik. Lalu disebutkan mata dan telinga setelah meminta kesehatan fisik, karena keduanya memiliki koneksi sangat kut terhadap hati. Juga menjadi unsur paling penting untuk masuknya nutrisi hati. Di mana hati menentukan baik atau tidaknya (perbuatan) anggota badah. Dalam doa ini juga disebutkan perlindungan dari kefakiran dan kekufuran. Ini menunjukkan hubungan keduanya. Banyak orang terjerumus kepada kekufuran karena sebab kefakiran. Kefakiran juga menjadi sebab seseorang terhalang dari amal dengan hartanya. Adapun kekufuran adalah doa besar yang sangat membuat Allah murka. Doa ini juga mengandung perlindungan dari siksa kubur. Ini menunjukkan adanya siksa di alam kubur. Siksanya berlanjut sampai terjadinya kiamat. Ia menjadi muqaddimah sebelum siksa sempurna di hari kiamat. Wal’iyadhu billah. Keistimewaan doa ini –di antaranya- di tutup dengan kalimat tauhid. Kalimat agung yang lebih berat daripada langit dan bumi. Apabila seorang hamba meninggal dengannya ia pasti masuk surga. Faidah Hadits 1. Pentingnya mendidik anak dengan keshalihan ayah. Ulama mengatakan bahwa keshalihan ayah akan berpengaruh kepada anak, begitu juga dosa ayah akan berpengaruh kepada anak. Maka semestinya para orangtua, khususnya ayah, selalu memperbaiki hubungannya dengan Allah Subahanahu wa Ta'ala. [Baca: Pengaruh Kesalihan Orang Tua Kepada Anak-anaknya] 2. Mengeraskan bacaan doa dan dzikir supaya didengar dan ditiru oleh anak atau murid. Andaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengeraskan suara beliau, tentu para sahabat kesulitan mengetahui apa yang beliau baca saat itu. 3. Pentingnya membaca wirid pagi dan sore, karena wirid itu merupakan nutrisi sekaligus imunisasi bagi setiap muslim. 4. Pentingnya kesehatan, baik jasmani maupun rohani. 5. Pentingnya memohon perlindungan dari kefakiran, kekufuran dan siksa kubur. 6. Pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Selasa, 19 Mei 2020

Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya

Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya Kok bisa begitu? Pertama : Godaan Bahwa Tarawih 'Cuma' Sunnah. Selalu saja muncul godaan dan bisikan setan, bahwa shalat tarawih itu hukumnya cuma sunnah, bukan wajib. Jadi kalau pun tidak dikerjakan hukumnya kan tidak berdosa. Tidak ada yang salah sih sebenarnya dari kalimat di atas. Seluruh ulama tanpa terkecuali sepakat berijma' bahwa shalat tarawih itu hukumnya memang sunnah dan bukan wajib. Sehingga tidak mengapa kalau tidak dikerjakan. Tetapi, justru pada kalimat 'tidak mengapa' itulah terdapat titik pangkal masalahnya. Karena tidak dikerjakan tidak apa-apa alias tidak berdosa, maka banyak dari kita yang menyepelekan shalat tarawih ini. Kadang-kadang shalat dan sering-seringnya malah tidak. Di tengah jamaah aktifis dakwah jumlahnya bejibun itu, saya yakin kalau 100% mereka pasti berpuasa siang hari selama Ramadhan. Tentu dengan pengecualian akhawat yang sedang haidh, nifas atau hamil. Wajar lah, namanya juga puasa wajib, masak sih aktifis dakwah tidak puasa? Tentu aneh sekali, bukan? Tetapi yang sering saya saksikan, banyak sekali aktifis dakwah yang madol, ngabur, ngacir dan mbolos dari shalat tarawih berjamaah di masjid, khususnya di malam-malam Ramadhan penuh ampunan ini. Alasannya tidak lain karena tarawih bukan kewajiban, hukumnya cuma sunnah. Catatan absensi ibadah puasa bisa sebulan penuh terisi, tapi catatan absensi shalat tarawih di masjid, hehe mbrodol . . . Kedua : Godaan Bahwa Tarawih Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah Ini godaan yang kedua, yaitu bisikan lembut di dalam batin bahwa shalat tarawih itu toh tidak harus dikerjakan berjamaah di masjid. Boleh juga dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Secara hukum shalat sudah benar sih, tarawih itu tetap sah bila dikerjakan sendiri-sendiri di rumah. Tidak ada yang melarang hal itu. Tetapi kalau kita merujuk kepada tarawih di masa Rasulullah SAW dan zaman shahabat, nampaknya tidak ada satu pun dari mereka yang shalat tarawih sendiri-sendiri, apalagi di rumah. Di masa Rasulullah SAW, dari tiga malam tarawih yang dikerjakan beliau SAW, semuanya diikuti sejumlah besar shahabat, mereka lalukan dengan berjamaah, bukan di rumah-rumah melainkan di dalam masjid Nabawi. Justru alasan kenapa kemudian dihentikan setelah tiga malam, karena alasan semakin banyaknya jumlah jamaah yang ikut tarawih di masjid. Beliau SAW khawatir dengan semakin banyaknya jamaah itu, lantas tiba-tiba tarawih diwajibkan. Sepeninggal Rasulullah SAW dan sudah tidak ada lagi kekhawatiran diwajibkan, banyak shahabat yang shalat sunnah dan baca quran sendiri-sendiri. Melihat hal itu Umar bin Al-Khattab segera mengoreksinya. Sebab cara itu justru dianggap tidak sejalan dengan sunnah yang dicontohkan Nabi SAW. Maka di tahun kedua masa pemerintahannya, shalat tarawih dihidupkan kembali, dengan cara shalat tarawih berjamaah, dengan satu imam, dilaksanakan di dalam masjid hingga menjadi bagian utuh syiar ibadah qiyam Ramadhan. Seluruh shahabat berijma' akan hal itu, dan shalat tarawih berjamaah di masjid itu pun diikuti oleh seluruh masjid di seluruh bentangan negeri Islam. Dan terus menerus dilaksanakan oleh umat Islam sedunia sepanjang abad 14 ini. Eh, tiba-tiba hari ini malah ada 'godaan' untuk menghilangkan sunnah yang sudah berjalan 14 abad ini dengan cara tarawih sendiri-sendiri di rumah. Memang sah tapi tidak sejalan dengan sunnah. Ketiga : Godaan Bahwa Tarawih di Masjid Terlalu Cepat Ini godaan yang ketiga, sifatnya agak teknis semata. Entah bagaimana di negeri kita ini, shalat tarawih terkesan dilaksanakan dengan agak terburu-buru. Begitu selesai shalat Isya', langsung dikejar dengan shalat tarawih dengan speed yang lumayan tinggi. Tidak ada yang salah sih sebenarnya, toh hal itu boleh-boleh saja hukumnya. Hanya saja, mengingat waktu shalat Maghrib sempat terpotong dengan berbuka puasa, bahkan shalat Maghribnya pun sebaiknya dimundurkan, lha kok malah shalat Isya' dan tarawihnya didesain langsung tancap gas. Bagi kebanyakan bangsa kita yang makan nasi, rasanya harus ada jeda sedikit sebelum memulai lagi shalat tarawih. Biar nasinya turun dulu, entah turun kemana, mungkin ke jempol kaki. Mungkin akan lebih bijaksana bila antara Maghrib dan Isya waktunya sedikit agak diperpanjang. Katakanlah kalau masuk waktu Isya' jam 19.00, bisa saja agak dimuncurkan shalatnya setengah menjadi jam 19.30. Biar ada kesempatan untuk istirahat sejenak, bagi mereka yang berbuka puasa untuk bisa ikut tarawih dengan nyaman. Dan akan lebih bijak lagi, bila speed shalat tarawih itu jangan telalu tinggi. biar bisa khusyu' mendengarkan alunan ayat Al-Quran dan agar bisa thuma'ninah saat rukuk, i'tidal dan sujud. Lalu jeda antara dua-dua rakaat itu dibikin sedikit lebih lama. Namanya saja shalat tarawih, artinya adalah shalat yang banyak istirahatnya. Tidak harus terburu-buru mengejar 20 rakaat dalam 20 menit. Wah, tarawih seperti ini sangat super high speed sekali. Tapi itulah yang lebih sering dilakukan di masjid-masjid, saking cepatnya, jadi ada godaan untuk tarawih sendiri-sendiri di rumah. Katanya, biar lebih khusyu'. Astaghfirullah, banyak sekali godaan shalat tarawih sesuai sunnah, ya.
Mudah Dihafal, Yuk Amalkan 5 Kalimat Zikir Ini Agar Dosa Kita Terampuni
10 Hari Terakhir Ramadhan, Aa Gym Ajak Umat Perbanyak Doa Ini