Rabu, 17 Juni 2020

#Ketika_Tak_Percaya_Diri, #Harus_Bagaimana?

Tidak semua orang punya kemampuan dalam segala bidang atau bisa melakukan segala hal. Ketika merasakan ketidakmampuan untuk berbuat sesuatu, apa yang harus dilakukan? Islam mengajarkan untuk mempelajari Alquran, sebab kitab itu adalah pedoman bagi manusia. Setiap kisah dalam Alquran itu mengandung pelajaran dan hikmah. Salah satunya adalah kisah perjuangan Nabi Musa a.s saat berhadapan dengan Firaun. Dalam kisah itulah jawaban pertanyaan tadi bisa terjawab. Allah SWT berfirman: “Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaahaa: 24-28) Saat Nabi Musa AS ditugaskan oleh Allah untuk menghadap Fir’aun yang sangat berkuasa saat itu, nabi Musa AS memanjatkan do’a agar dia mampu menjalankan tugas dengan baik. Kemudian Nabi Musa AS berangkat menemui Fir’aun untuk menyampaikan risalah dakwahnya. Saat itu nabi Musa a.s memohon kepada Allah agar benar-benar menyiapkannya untuk mengemban risalah tersebut. Disini ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik, yaitu tentang rasa percaya diri dan pertolongan Allah. Saat menghadapi tugas yang berat, kemudian muncul keraguan, merasa diri tidak mampu, alih-alih mengurungkan niat, nabi Musa as berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa rendah diri dan dimunculkan kepercayaan dirinya. Banyak orang yang menyerah karena merasa tidak bisa melakukan sesuatu tugas atau urusan tertentu. Bahkan ada yang malah terjerumus ke lembah putus asa. Padahal, seseungguhnya, pertolongan allah sellau ada. Mungkin kita memiliki keterbatasan, namun jika Allah berkehendak, keterbatasan itu tidak akan menghalangi untuk meraih tujuan. Bagaimana jika setelah berusaha sekuat tenaga ternyata kita gagal? Kembali ke kisah nabi Musa as, apakah tugasnya meluluhkan hati Firaun itu berhasil? Ternyata tidak. Dan Nabi pun tahu bahwa kemungkinan berhasilnya sangat sedikit, tetapi beliau masih tetap mau mencoba. Begitu juga dengan kita, meskipun kita tahu bahwa kemungkinan keberhasilan sesuatu kita kecil, tidak ada salahnya untuk mencoba kecuali ada peluang lain yang lebih baik. Apalagi jika kemungkin keberhasilannya lebih besar. Kemungkinan sekecil apa pun perlu dicoba. Apalagi saat kita tidak memiliki pilihan lain. Contoh lain adalah Siti Hajar saat mencari air untuk bayinya, Ismail a.s. Di tengah gurun gersang, kemungkinan untuk mendapatkan air kecil, tetapi terus berusaha, tidak menyerah. Dan pertolongan pun datang pada akhirnya. Allah akan menolong kita jika kita sungguh-sungguh menginginkannya. Dan sebagai bukti kita tetap berusaha meski kemungkinannya kecil untuk terwujud. Nyatanya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa apa yang kita lakukan akan berhasil atau gagal. Hanya satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan mencoba. Pelajaran kisah itu adalah tentang keharusan kita melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Ikhtiar maksimal ini yang akan mendatangkan pertolongan Allah saat diiringi dengan do’a dan sikap tawakal. Inilah pelajaran yang sangat berharga dari kisah qirani diatas. Meski ikhtiar maksimal tidak selalu mendatangkan hasil maksimal, setidaknya kita sudah meyertakan Allah dalam setiap langkah. Meski tak berhasil dalam hal yang riil, ikhtiar itu akan tetap bernilai di hadapan Allah. Ingat pepatah man jadda wajada? Ya, kita harus sungguh-sungguh dalam mencoba, karena bersunguh-sungguh itu menunjukan keinginan yang kuat. Selebihnya kita serahkan pada Allah dengan tawakal. Tawakal adalah salah satu cara agar kita percaya diri. Karena tawakal sebuah keharusan bagi seorang Muslim, harusnya seorang Muslim itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Baik saat menghadapi masalah maupun percaya diri meraih sukses yang besar. Jadi, ketika ketidakpeercayaan diri datang melanda, tetaplah laksanakan ikhtiar bersama doa serta tawakal terhadap hasilnya.

Jumat, 12 Juni 2020

12 Jhm'at 2020

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (Al Jumu'ah 62:9).”

Selasa, 09 Juni 2020

Dicatat Seribu Kebaikan Atau Dihapus Seribu Kesalahan


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ DICATAT SERIBU KEBAIKAN ATAU DIHAPUS SERIBU KESALAHAN Pertanyaan: السؤال: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «ﺃﻳﻌﺠﺰ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﺴﺐ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﻟﻒ ﺣﺴﻨﺔ؟ ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺳﺎﺋﻞ ﻣﻦ ﺟﻠﺴﺎﺋﻪ: ﻛﻴﻒ ﻳﻜﺴﺐ ﺃﺣﺪﻧﺎ ﺃﻟﻒ ﺣﺴﻨﺔ؟ ﻗﺎﻝ: ﻳﺴﺒﺢ ﻣﺎﺋﺔ ﺗﺴﺒﻴﺤﺔ ﻓﺘﻜﺘﺐ ﻟﻪ ﺃﻟﻒ ﺣﺴﻨﺔ، ﺃﻭ ﺗﺤﻂ ﻋﻨﻪ ﺃﻟﻒ ﺧﻄﻴﺌﺔ (¬1) » Di dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah memberatkan salah seorang di antara kalian untuk melakukan seribu kebaikan dalam sehari?” Kemudian salah seorang yang ada di dalam majelis bertanya: “Bagaimana caranya salah seorang di antara kami mampu melakukan seribu kebaikan dalam sehari?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Seseorang bertasbih seratus kali, niscaya akan dicatat baginya seribu kebaikan, atau dihapus darinya seribu kesalahan.” [Shahih Muslim Kitab: adz-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar no. 2698; Sunan at-Tirmidzi Kitab: ad-Da’awaat no. 3463; dan Musnad Ahmad bin Hambal 1/185] Pertanyaan: ﺳﺆاﻝ: ﻫﻞ اﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺑﺄﻥ ﻳﺴﺒﺢ ﻣﺎﺋﺔ ﺗﺴﺒﻴﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻌﺪ اﻧﺘﻬﺎء اﻟﺼﻼﺓ 33 ﺗﺴﺒﻴﺤﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﺒﺢ ﻣﺎﺋﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﺑﻨﻔﺲ اﻟﻜﻴﻔﻴﺔ، ﺣﻴﺚ ﻛﻞ ﺃﺻﺒﻊ 3 ﺗﺴﺒﻴﺤﺎﺕ؟ ﺃﻓﻴﺪﻭﻧﺎ ﺑﺎﺭﻙ اﻟﻠﻪ ﻓﻴﻜﻢ Apakah maksud dari hadis tersebut “Seseorang bertasbih sebanyak seratus kali” adalah dengan seseorang bertasbih sebagaimana tata cara tasbih ketika berzikir seusai salat sebanyak tiga puluh tiga kali, namun dia menambahnya sampai genap seratus? Yakni dengan tata cara yang sama? Sebab satu jari bisa digunakan untuk menghitung tiga kali tasbih. Mohon bimbingannya. Barakallahufiikum Jawaban: ﺟ 1: اﻟﻤﺮاﺩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ: (ﺳﺒﺤﺎﻥ اﻟﻠﻪ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ) ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺮﺓ. Maksud hadis tersebut adalah seseorang mengucapkan, “Subhaanallah wa bihamdihi” (Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya) sebanyak seratus kali. [Al-Lajnah ad-Daaimah Lilbuhuuts al-Ilmiyyah wal-Iftaa Fatwa nomor 10810] Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil Ketua: Abdurrazaq Afifi Anggota: Abdullah bin Ghudayyan WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu) Website: https://nasihatsahabat.com/ Email: [email protected] Twitter: @NasihatSalaf Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/ Instagram: NasihatSahabatCom Telegram: https://t.me/nasihatsahabat Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat https://nasihatsahabat.com/poster-dakwah/subhanallah-wa-bihamdihi/ https://rumaysho.com/16856-sehari-beramal-seribu-kebaikan-bisakah.html DICATAT SERIBU KEBAIKAN ATAU DIHAPUS SERIBU KESALAHAN

Orang yang Dipastikan Masuk Neraka ketika Masih Berada di Dunia


KALA Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, dilindungi pamannya dan didukung kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, sontak hal itu membuat orang-orang Quraisy gagal menghentikan tindakan-tindakan beliau, maka mulailah mereka mengejek, mencibir dan menantangnya berduel. Wahyu pun turun mengisahkan dengan lengkap tentang perilaku orang Quraisy dan orang-orang yang menabuh genderang permusuhan kepadanya. Ada yang namanya disebutkan dengan jelas oleh Al-Qur’an kepada kita, ada pula di antara mereka yang namanya disebut Allah secara umum sebagai orang-orang kafir saja. Di antara orang-orang Quraisy yang kisah disebutkan Al-Qur’an dengan jelas untuk kita ialah paman Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, Abu Lahab bin Abdul Muthalib dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah. Allah menamainya dengan “sang pembawa kayu bakar,” hal itu karena mereka senahtiasa mengganggu Rasulullah dengan mengumpulkan kayu bakar lalu meletakkannya di jalan yang selalu dilalui Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam. Tentang kedua orang ini yang sekaligus pasangan hidup dunia, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat berikut: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. Al-Masad: 1-5). Ibnu Hisyam menuturkan: Kata al-jiid dalam ayat di atas artinya adalah leher dan kata jamaknya ajyaadu. Sedangkan al-masad artinya pohon yang telah dihaluskan sebagaimana pohon rami dihaluskan kemudian dibuat tali. Kata tunggalnya masadah. Ketika Ummu Jamil sang pembawa kayu bakar mendengar ayat Al-Qur’an yang diturunkan tentang perihal diri dan suaminya, ia segera datang kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang waktu itu sedang duduk di masjid di sisi Ka’bah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ummu Jamil datang dengan membawa batu besar segenggam tangannya. Ketika berdiri di depan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar, Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam sehingga dia hanya melihat Abu Bakar. Ia berkata, “Wahai Abu Bakar, mana sahabatmu? Aku dengar sahabatmu mencibir kelakuanku. Demi Allah, apabila aku berjumpa dengannya, pasti aku sumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku seorang penyair.” Kemudian ia juga berkata: Mudzammam (lawan dari Muhammad) kami tantang dirinya Kami bangkang semua perintahnya Dan agamanya membuat kami marah Selesai mengatakan itu, Ummu Jamil pergi. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah Ummu Jamil tidak melihatmu?” Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ia tidak mampu melihatku, karena Allah cabut penglihatannya dariku.” Mayoritas orang-orang Quraisy menamakan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam Mudzammam, kemudian mereka mencela habis-habisan nama Mudzammam tersebut. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, tidakkah kalian merasa takjub bagaimana Allah melindungiku dari gangguan orang-orang Quraisy? Mereka mencela dan mengolok-olok nama Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad.” [] Referensi: Sirah Nabawiyah perjalanan lengkap Kehidupan Rasulullah/ Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani/ Akbar Media

Senin, 08 Juni 2020

Senin 08 Juni 2020 Awas, Allah Murka Bila Anda Duduk Seperti Ini


Awas, Allah Murka Bila Anda Duduk Seperti Ini AGAMA Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk urusan duduk. Untuk yang satu ini, memang kurang mendapat perhatian serius. Sebagian berpikir, bagaimana bisa duduk saja sampai diatur dalam agama. Namun begitulah ajaran Islam, setiap sendi kehidupan bernafas dengan aturan yang sudah ditetapkan. Peraturan yang dibuat, bukan bermaksud memberatkan, namun justru berdampak positif baik dari segi sosial dan kesehatan. Ternyata cara duduk juga diatur sedemikian rupa. Melalui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Allah mengabarkan Dia begitu murka dengan hamba-hamba-Nya yang duduk seperti ini. Sebagai muslim, sudah selayaknya kita menjauhi apa yang diperintahkan Rasul, termasuk menghindari duduk seperti berikut. Ternyata duduk yang dimurkai Allah adalah dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan. Bukankah ini sering kita lakukan? Terutama saat duduk di lantai saat menghadiri jamuan, saat bersantai bersama keluarga atau saat berada di dalam masjid. Hadis Riwayat Abu Daud dari Syirrid bin Suwaid radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: "Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, "Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?" (HR. Abu Daud). Syaikh Abdul Al Abbad mengatakan bahwa duduk seperti ini hukumnya haram, meski sebagian ulama lain mengatakan makruh. "Makruh dapat dimaknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits disifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya." (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49) Sementara itu Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, duduk yang dimurkai sebagaimana yang disifati Nabi dengan menjadikan tangan kiri sebagai penumpu tubuh. Namun jika meletakkan kedua tangan sebagai tumpuan, atau tangan kanan saja menjadi tumpuan, maka hal itu tidak mengapa. Lantas jika ada yang bertanya, dimana logikanya? Sebagian mungkin mengatakan, ini tidak masuk akal dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Allah dan Rasulullah sudah memerintahkan, maka ini sudah cukup bagi seorang muslim. Masihkan kita butuh bukti lain? Jika ini perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kita tidak butuh bukti lain. Ini adalah perintah dan jika tidak ditaati merupakan tanda kesombongan seorang muslim.

Senin 08 Juni 2020. Doa dan Amalan Membuka Pintu Rezeki, Resep Ibnu Qayyim