Senin, 18 April 2022

4 Dzikir Ini Bisa Mendobrak Pintu Rezeki, Muslim Wajib Tahu dan Lakukan Secara Rutin di Pagi Hari



 Rezeki memang sudah dijamin oleh sang pencipta.

Sebagai manusia hanya bisa berusaha yang terbaik sehingga usaha yang dilakukan bisa mencukupi kebutuhannya.

Bekerja dan berusaha adalah kewajiban manusia namun usaha yang dilakukan akan terasa lebih berkah jika diiringi doa dan mendekatkan diri kepada sang pencipta misalnya dengan membaca dzikir yang bisa mendatangkan dan melancarkan rezeki.

Rezeki adalah karunia Allah yang diberikan kepada manusia dan wajib disyukuri.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatku maka sesungguhnya azabku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Maka, jika manusia bersyukur atas rezeki yang telah diperoleh maka Allah berjanji akan menambah nikmat tersebut.

Untuk mendapatkan rezeki, ada dzikir yang dianjurkan untuk dibaca bagi umat muslim.

Dzikir bisa diartikan sebagai mengingat karena orang yang berdzikir maka dia adalah orang yang mengingat-ngingat.

Tidak hanya itu, dzikir tidak hanya upaya untuk mengingat tetapi juga berarti menghayati dan menanamkan dzikir tersebut dalam kehidupan spiritualnya.

“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” ( QS Al-Ahzab: 41 ).

Bacalah dzikir tersebut di pagi hari setelah sholat subuh atau juga setelah sholah sunnah Dhuha.

Berikut bacaan dzikir tersebut :


“Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil’ adzim.”

“Lailahaillallah Al Malikul haqqul Mubin.”

“Subhanallah wabihamdihi subhanallahil adzim.”

“Astagfirullah’adzim Min kulli dzanbin ‘adzim.”


Masing-masing dibaca 33 kali, bacalah dengan khusyuk dan ikhlas karena Allah SWT.

Sebagai seorang hamba yang beriman, jika kita mengingat Allah SWT maka insyaAllah Dia juga akan mengingat kita dan mencukupi kebutuhan kita.

Semoga Allah SWT selalu melancarkan rezeki kita semua dan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Aamiin ya rabbal alamin.

Wallahu a’lam bishawab

Jumat, 15 April 2022

Ada 13 permintaan ANAK yg mungkin tak pernah mereka ucapkan :



1. Cintailah aku sepenuh hatimu.


2. Jangan marahi aku di khalayak orang ramai.


3. Jangan bandingkan aku dgn kakak, abang, adikku atau orang lain.


4. Ayah & bunda jgn lupa, aku adalah fotocopimu.


5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jgn selalu anggap aku anak kecil.


6. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku apabila salah.🏃


7. Jangan ungkit2 kesalahanku.


8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.


9. Jangan memarahiku dgn mengatakan hal2 buruk, bukankah apa yg keluar daripada mulutmu sebagai orang tua ialah doa bagiku?😔


10. Jangan melarangku hanya dgn mengatakan "JANGAN" tetapi berilah penjelasan kenapa aku tak boleh melakukan sesuatu.


11. Tolong ayah ibu, jgn rusak mentalku & pemikiranku dgn selalu kau bentak2 aku setiap hari.


12. Jangan menyeret aku ke dlm masalahmu yg tak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yg lain, aku imbasnya.


13. Aku ingin kau sayangi & cintai kerana engkaulah yg ada dlm kehidupanku & masa depanku.


SEMOGA kita bisa mencontoh Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam dalam mendidik anak² kita. 

AAMIIN

PEMAHAMAN SETIAP SURAT YASIN









>

YANG TERJADI SETELAH MENIKAH




Tahun 1-5 

Masa ini sangat menantang karena disinilah kita mengenal baik buruk pasangan kita,& tidak ada lagi istilah kentut bauk wangi,intinya sabar letakkan Allah sebagai penolong.


Tahun 5-10

suami istri sudah memahami sikap pasangan masing2,jika ada konflik tau jln menyelesaikan nya,rumah tangga masa ini juga semakin stabil.


Tahun 10-15

walau sudah stabil & rumah tangga bahagia tp suami istri perlu hati2,ada yg mulai rasa bosan & terpengaruh orang lain bisa jadi krn suami istri lebih beri perhatian pada anak2 yg mulai remaja/karir.


Tahun 15-20

anda boleh merasa lega krn kadar perceraian pun sudah berkurang,tpi yg namanya manusia hanya bisa merancang Tuhan juga yg menentukan,ada juga konflik di usia pernikahan ini tpi sudah jarang,jika sudah sampai tahap ini maka bersyukurlah & jagalah keharmonisan & kerukunan rumah tangga.

SETIAP MASA PERKAWINAN ADA GAMBARANNYA MASING2 !!!

-KEKUATAN IMAN

-ILMU & AMAL BENTENG SEGALANYA.

   Senantiasa tawaqal,usaha, & doa agar rumah tangga kekal bahagia.

Setiap masa pernikahan memiliki tantangan tersendiri...?

YANG PENTING...ingat tujuan utama menikah,jika tujuannya benar...Allah akan membantu memelihara kerukunan rumah tangga.

Jumat, 08 April 2022

DOSA YANG DITANGGUNG KAUM LAKI²


😢Lelaki bujang menanggung dosa sendiri apabila sudah baligh..sedangkan dosa anak gadis ditanggung pula oleh bapaknya..

😢Lelaki yang menikah menanggung dosa sendiri..dosa istri..dosa anak perempuan yang belum kawin dan dosa anak lelaki yang belum baligh...*

😢Hukum menjelaskan..anak lelaki bertanggung jawab pada ibunya..dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggung jawabnya maka dosa baginya terutama anak lelaki yang paling tua..manakala perempuan tidak...perempuan hanya perlu taat kepada suaminya...```

😢Istri yang berbuat baik mendapat pahala.. kalau berbuat tak baik dosanya ditanggung pula oleh suaminya...*

😢Suami wajib memberi nafkah pada istri..tapi istri tidak...

Walaupun begitu istri boleh membantu...Tak layak bagi suami bertanya pendapatan istri lebih-lebih lagi menggunakan pendapatan istri tanpa izin..

😢Diakhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 wanita ini Istrinya..Ibunya..Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya...

😭`Banyak lagi yang harus ditanggung oleh lelaki, lebih-lebih lagi yang bergelar suami.. Kalau dibayangkan beratnya dosa-dosa yang ditanggungnya seperti gunung dengan semut 

😢Semuanya kuasa Allah..

Kita berserah kepada-Nya dan Semoga “perjalanan” kita ke “sana” akan diterangi dengan cahaya-Nya……Aamiin

Senin, 21 Februari 2022

Bolehkan Shalat Tahajud Saat Hampir Subuh?


 Mau shalat tahajud tapi waktu sudah hampir mendekati subuh, apakah masih boleh?

Sebagaimana diketahui, shalat tahajud merupakan ibadah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari.

Waktu terbaik mengerjakan shalat tahajud adalah sepertiga malam akhir atau setengah malam terakhir.

Akan tetapi, terkadang sebagian umat muslim ada yang tidak bisa mengerjakan shalat tahajud di waktu-waktu terbaik itu dengan berbagai alasan.

Misalnya seperti terlambat bangun dari tidur malam, sehingga waktu terbaik itu terlewatkan.

Kadang kala, ada yang baru terbangun beberapa saat menjelang waktu subuh.

Memang, di waktu ini kondisi langit masih terlihat gelap, namun sudah hampir mendekati waktu subuh.

Lalu, apakah masih boleh mengerjakan shalat tahajud pada waktu ini?

Shalat Tahajud menjelang waktu Subu

Selagi belum memasuki waktu subuh, maka shalat tahajud masih berlaku. bagaimana mengetahui waktu subuh jika dilihat berdasarkan gelap-terang langit.

"Kalau Anda menghadap ke arah timur, ke arah terbitnya matahari, maka menjelang subuh itu kan gelap dulu," 

"Kalau di sudah di negeri Hongkong itu terang, kita sudah tertutup dengan sinar-sinar yang memancar dari kota-kota yang ada disana.

Tapi kalau seandainya kita di negeri yang jauh dari sinar akan terlihat, nanti di ufuk timur itu ada suatu sinar yang merata,.

Sinar merata dari ufuk timur,  yang membentang dari utara hingga selatan itu disebut dengan fajar shadiq.

Jika fajar shadiq sudah terlihat, itu menandakan bahwa waktu subuh sudah tiba.

Hal ini juga berlaku jika berada di luar negeri sekalipun.

Shalat tahajud tetap diukur berdasarkan waktu subuh di masing-masing daerah.

Opsi lainnya untuk mengetahui waktu subuh juga bisa dilihat melalui aplikasi-aplikasi yang tersedia di smartphone.

Pada intinya, shalat tahajud masih bisa dikerjakan selagi belum memasuki waktu subuh.

Tapi batasnya bukan azan subuh, melainkan waktunya sudah memasuki subuh atau belum.

"Selagi belum subuh, Anda tahajud, masih sah.

Baru setelah itu masuk waktu subuh, biarpun belum azan kalau jamnya sudah jam subuh, maka itu waktu subuh tiba. Bukan waktu Tahajud lagi,"


Waktu mengerjakan shalat tahajud

Waktu pelaksanaan shalat tahajud adalah malam hari dan dibagi menjadi tiga bagian.

Mengutip buku risalah tuntunan shalat lengkap, waktu melaksanakan shalat Tahajud dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Sepertiga Pertama, yaitu dari pukul 19.00 sampai pukul 22.00, ini saat utama.

2. Sepertiga Kedua, yaitu dari pukul 22.00 sampai pukul 01.00, ini saat yang paling utama

3. Sepertiga Ketiga, yaitu pukul 01.00 sampai dengan masuknya waktu subuh, ini adalah saat yang paling utama.


Sholat tahajud menurut Ustad Abdul Somad

Sementara itu, Ustadz Abdul Somad mengatakan, Rasulullah SAW saat di Makkah melaksanakan shalat tahajud di Masjidil Haram.

Hal itu dilakukan Rasulullah SAW karena pada waktu malam sunyi, tidak ada orang.

Sehingga tak mendapat gangguan dari kafir Quraisy musyrik.

Menurut Ustadz Abdul Somad, setelah melaksanakan shalat Isya, Nabi Muhammad SAW tidur.

Itulah sebabnya Nabi SAW mudah terbangun untuk melaksanakan sholat tahajud pada sepertiga malam.

"Kenapa kita payah bangun tahajjud? Habis Isya tak tidur," kata UAS.

"Boleh bicara setelah Isya dengan syarat bicara agama. Selain daripada itu makruh hukumnya," urainya.

Karena itu, Ustadz Abdul Somad menyarankan agar setelah Isya agar langsung tidur.

"Itu maka orang-orang dulu itu sehat-sehat badannya. Habis Isya tidur. TV tak ada. Internet tak ada. Makan ikan asin kangkung, tidur, besok anak 10," jelasnya.

Oleh sebab itu maka, kata UAS, kalau mau tidur yang berkualitas adalah setelah Isya.

"Itu tidur berkualitas. Nabi SAW tidur tak banyak. Sikit tapi berkualitas. Bukan macam kita, sikit-sikit tidur," jelasnya.


Tata cara pengerjaan shalat tahajud sama seperti shalat lima waktu.

Yaitu dimulai dengan niat dan diakhiri dengan salam.

Yang membedakan hanya pada niat dan waktu pelaksanaannya.

Untuk lebih jelas, simak tata caranya berikut ini.

1. Niat

Bagi yang melafadzkan niat, niat sholat tahajud adalah sebagai berikut:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Ushalli sunnatat tahajudi rak’ataini lillahi ta’aalaa)

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala”

2. Takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah (Kumpulan doa iftitah)

3. Membaca surat Al Fatihah

4. Membaca surat atau ayat Al Qur’an

5. Ruku’ dengan tuma’ninah

6. I’tidal dengan tuma’ninah

7. Sujud dengan tuma’ninah

8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

9. Sujud kedua dengan tuma’ninah

10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

11. Membaca surat Al Fatihah

12. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Rasulullah biasa membaca surat yang panjang.

13. Ruku’ dengan tuma’ninah

14. I’tidal dengan tuma’ninah

15. Sujud dengan tuma’ninah

16. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

17. Sujud kedua dengan tuma’ninah

18. Tahiyat akhir dengan tuma’ninah

19. Salam

Demikian bagi yang ingin melaksanakan sholat tahajud dua rakaat.

Jika melaksanakan lebih dari dua rakaat, tinggal mengulang lagi seperti langkah-langkah di atas.

Rabu, 16 Februari 2022

#Pertanyaan Bagaimanakah cara shalat khusyu’?

 #Pertanyaan

Bagaimanakah cara shalat khusyu’?

#Jawaban:

Inti dari shalat adalah zikir mengingat Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt.

وَأَقِمِ ال لَّا صلَاةَ لِ ي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (Qs. Thaha *20+: 14).

Oleh sebab itu Allah Swt mengecam orang yang shalat tetapi tidak mengingat Allah:

) فَػوَ لٌ لِلْمُصَلدِّ ) 4( اللَّا نَ ىُمْ عَنْ صَلَاتِِِمْ سَاىُوفَ ) 5

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (Qs. al-Ma’un *107+: 4-5).

Zikir mengingat Allah Swt dalam shalat tidak dibangun sejak Takbiratul-Ihram, akan tetapi jauh sebelum itu. Rasulullah Saw sudah mengajarkan kekhusyu’an hati sejak berwudhu’. Dalam hadits disebutkan:

مَنْ تَػوَ لَّا ض فَمَضْمَضَ وَاسْتَػنْ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ فَمِوِ وَأَ فِوِ فَ ذَا اَسَلَ وَجْ وُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ وَجْ وِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْػنَػيْوِ فَ ذَا اَسَلَ دَ وِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ دَ وِ فَ ذَا مَسَحَ رَأْسَوُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رَأْسِوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ أُذُ ػيَْوِ فَ ذَا اَسَلَ رِجْلَيْوِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رِجْلَيْوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْوِ وَ ا تْ صَلاَتُوُ وَمَ يُوُ إِلَذ الْمَسْ دِ افِلَة

“Siapa yang berwudhu’, ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan”. (HR. Ibnu Majah).

Wudhu’ bukan sekedar kebersihan fisik, tapi juga telah mengajak hati untuk khusyu’ kepada Allah Swt dan meninggalkan semua keduniawian yang dapat melalaikan hati dari Allah Swt, meskipun hal kecil, oleh sebab itu Rasulullah Saw melarang menjalinkan jari-jemari dan membunyikannya setelah berwudhu’ menjelang shalat:

إِذَا تَػوَ لَّا ض أَ دُ مْ فَ سَنَ وُضُوءَهُ ثُُلَّا خَ جَ عَامِدًا إِلَذ الْمَسْ دِ فَلاَ « عَنْ عْبِ بْنِ عُ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ بدِّكَ لَّا ن بػ أَصَابِعِوِ فَ لَّاوُ صَلاَةٍ .

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu berwudhu’, ia berwudhu’ dengan baik, kemudian ia pergi ke masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam shalat”. (HR. at-Tirmidzi).

Menunggu dan menantikan kehadiran shalat dengan persiapan hati untuk memasukinya. Rasulullah Saw bersabda:

قَالُوا بػلََى ا .» أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ « رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda:

قَالُوا بػلََى ا .» أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ « رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ pada saat tidak menyenangkan, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ikatan (dalam kebaikan)”. (HR. Muslim).

Menjawab seruan azan. Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا قَاؿَ الْمُ ذدِّفُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . فَػ اؿَ أَ دُ مُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ « - قَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاوُ ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . .» قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . مِنْ قَػلْبِوِ دَخَلَ اتصَْنلَّاةَ

Rasulullah Saw bersabda:


“Apabila mu’adzin mengucapkan

: * الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] 

(Allah Maha Besar). Salah seorang kamu menjawab dengan:

 [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] 

(Allah Maha Besar). Kemudian mu’adzin mengucapkan:

 * أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] 

(aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab dengan:

 [ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] 

(aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Mu’adzin mengucapkan:

 * أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ]

 (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ia menjawab dengan: 

[ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ] 

(aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Mu’adzin mengucapkan:

 * لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة ] 

(Marilah melaksanakan shalat). Ia menjawab dengan:

[ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ]

 (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: 

* لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ ] 

(Marilah menuju kemenangan). Ia menjawab dengan: 

[ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] 

(tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: 

* الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ]

 (Allah Maha Besar). Ia menjawab dengan:

 [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ]

 (Allah Maha Besar). Mu’adzin mengucapkan: 

* لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ]

 (tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab: :

 [ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو +

 (tiada tuhan selain Allah), dari hatinya, maka ia masuk surga”. (HR. Muslim).

Menjawab ucapan mu’adzin dari hati membimbing hati ke dalam kekhusyu’an shalat. Menutup dengan doa wasilah. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَاؿَ سْمَعُ الندِّدَاء الللَّا لَّا م رَ لَّا ب ىَ هِ اللَّادعْوَةِ التلَّاالَّامةِ وَال لَّا صلاَةِ الْ ائِمَةِ آتِ تُػَ لَّا مدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْػعَثْوُ مَ امًا تَػْمُودًا اللَّا ى وَعَدْتَو للَّاتْ لَوُ شَفَاعَتَِّ ػوََْ الْ يَامَةِ

Siapa yang ketika mendengar seruan azan mengucapkan:

“Ya Allah Rabb Pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad Saw al-Wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”. Maka layaklah ia mendapat syafaatku pada hari kiamat”. (HR. al-Bukhari.

Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat. Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati. Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:

إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan:

قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى - وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى - فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ

Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.

Ketika hamba-Ku itu mengucapkan:

 [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ]

 (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab:

 [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ]

 (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan:

 [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] 

(Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab:

 [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] 

(hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: 

[ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ]

 (Raja di hari pembalasan). Allah menjawab:

 [ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ]

 (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan

 [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] 

(hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan:

 [ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] 

(kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong).

 Allah menjawab:

 [ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] 

(ini antara Aku dan hamba-Ku, ia mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: 

[ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] 

(tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab:

 [ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] 

(ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).

Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.