Selasa, 08 November 2022

Bagaimana tata cara mandi setelah haid ?

 


Mandi wajib setelah haid ada caranya. Setelah masa haid berakhir, perempuan wajib mensucikan dirinya dengan mandi, karena haid adalah salah satu hadas besar. Sebelum mandi, pastikan bahwa darah haid sudah tidak keluar lagi, yakni dengan cara mengoleskan kapas ke bagian vagina. Jika tidak ada bekas warna keruh atau kuning maka tandanya ia telah suci. Berhentinya darah haid juga bisa diketahui melalui cairan bening yang keluar setelah masa haid selesai.


Adapun tata cara mandi wajib setelah haid yaitu :


Pertama, hilangkanlah najis-najis yang keluar dari qubul dan dubur dengan beristinjak.


Kedua, hilangkan kotoran-kotoran di badan yang sulit dihilangkan kecuali dengan air, misalnya membersihkan bekas darah yang menempel di kuku, bekas make up, dll.


Ketiga, sunnah berwudhu dahulu dengan niat kesunnahan dalam mandi


Keempat, berniat mandi wajib dengan membaca :


نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ مِنَ الحَيْضِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى


Nawaitul Ghusla Liraf’il Hadatsil Akbari minal Haidhi Fardhan Lillaahi Ta’aalaa.


“Aku niat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar dari haid fardhu karena Allah Swt.”


Kelima, alirkan air ke seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, ratakan air dan gosokkan badan dengan tangan untuk membersihkan kotoran yang menempel pada tubuh.



Jazakallah, Jazakillah, Jazakumullah, Apa Artinya?



BincangSyariah.Com – Pernahkan kita mendengar orang membalas sesuatu kepada anda setelah melakukan sesuatu atau berkontribusi untuk kebaikan, jazakallah ya, jakalillah ya, atau jazakumullah. Yang terakhir acapkali penulis pribadi dengar adalah ungkapan jazakumullah ahsana al-jazaa, yang biasa diucapkan pengurus suatu masjid ketika selesai membacakan perolehan amal. Biasanya dibacakan di momen-momen sebelum shalat yang hanya di waktu tertentu seperti shalat jumat atau shalat id. Tapi apa maksud itu semua, jazakallah, jazakillah, sampai jazakumullah ?

Jika ditilik dari sisi kebahasaan, sebenarnya jazakallah adalah seperangkat kalimat yang lengkap, terdiri atas kata kerja atau disebut sebagai fi’il yaitu kata jazaa’; subjeknya (faa’il) yaitu Allah; dan objek (maf’uul) yaitu ka yang bermakna anta (kamu). Lalu apa makna kata jazaa’? Secara ringkas, jazaa’ bermakna “balasan yang setimpal”. Dalam bahasa Arab, kata jazaa’ semakna dengan aghnaa’ dan akfaa’ yang berarti mencukupi. Makna ini misalnya ditemukan dasarnya di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 48,

وَاتَّقُوا يَوْماً لاَ تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئاً

dan takutlah kalian kepada hari dimana setiap diri tidak bisa mencukupi (untuk menolong) diri yang lain sedikitpun

Atau contoh lain dalam syair Arab,

أتُجْزُونَ بالودّ المُضاعَفِ مثلَه ، … فإنّ الكريم مَن جزَى الودَّ بالودِّ

Apakah balasan cinta yang begitu besar juga akan kalian terima … sesungguhnya orang yang mulia itu yang membalas cinta dengan cinta

Kembali kepada Dalam bahasa Arab, konsep kata kerja memiliki dimensi waktu yang dibagi menjadi tiga yaitu dahulu, saat ini, dan akan datang. Untuk dimensi waktu dahulu disebutkan sebagai fi’il al-madhi, sementara dimensi hari ini dan akan datang disebut sebagai fi’il al-mudhari’. Maka, secara seharusnya literal berarti kata jazaakallah bermakna “Allah telah membalas engkau”. Namun ada makna yang lebih luas disini. Dalam bahasa Arab, kata kerja yang bermakna lampau, jika dinisbatkan kepada Allah, maka maknanya adalah kekal namun terus-terus. Sehingga, maknanya tidak lagi telah, namun “Allah senantiasa memberikan balasan pada engkau”. Catatan terakhir, jika menggunakan ki (sebagai kata ganti perempuan) maka maknanya untuk lawan bicara perempuan dan kum untuk lawan bicara laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang banyak

Sehingga, dapat disimpulkan ketika seseorang menyampaikan ungkapan jazakallah, jazakillah, azaadalah ungkapan harapan agar kebaikan yang diberikan seseorang kepada yang mengucapkannya, mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt. Wallahu A’lam

Pernah meninggalkan shalat dengan sengaja, bagaimana bertobatnya ?



Sebagai muslim, Allah wajibkan kita sholat lima waktu. Dan perintah sholat ini di wajibkan bagi muslim berakal. Maka sebagaim muslim berakal kita harus menjalankan sholat sesuai apa yang di ajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dalam Hadits. 


Sholatlah Kalian sebagaimana melihat aku ( Rasulullah ) sholat. 


Dan amalan seorang hamba di hisab oleh Allah pertama kali adalah sholat mereka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْـجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، وَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ ؛ قَالَ الرَّبُّ : اُنْظُرُوْا ! هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيْضَةِ ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَىٰ ذٰلِكَ


Sungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan selamat-lah dia. Namun jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci lagi Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Lalu dihisablah seluruh amalan wajibnya sebagaimana sebelumnya. HR. Tirmidzi No. 413 dan Imam An Nasai. Hadits shahih dalam Shahih Attarghib wa Tarhib Al Bani No. 540. 


Apabila seorang muslim meninggalkan sholat. Maka dirinya bisa jatuh dalam kekufuran atau kafir. Karena seseorang di katakan muslim atau Kafir adalah dengan meninggalkan sholat. Sebagaimana dalam Hadits yang shahih. 


بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ


“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” HR. Ath Thobari dan dalam Shahih Attargib wa Attarhib No. 566


Lalu apabila kita meninggalkan sholat dengan sengaja. Maka hendaklah kita bertaubat kepada Allah dengan kembali menjalankan sholat sesuai sunnah. Maka pelajarilah syariat sholat dengan baik. Insya Allah kita tdk akam jatuh dalam kelalaian sholat atau meninggalkannya. 


1. Bertaubat kepada Allah


2. Beristigfar


3. Menjalankan sholat yang di wajibkan sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. 


4. Mempelajari aqidah yang benar sesuai pemahaman para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.


5. Mempelajari syariat sholat sesuai sunnah dan bergaul bersama orang yang shalih, tinggalkan lingkungan yang buruk.


Wallahu a'lam


bismillah walhamdulillah wa shalatu wa salamu ala Rasulillah wa ba'd.

Jika istri tidak shalat apakah dosanya pada suami...?



Pertama-tama, bersyukurlah kepada Allah karena masih ingat tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya. Perlu dimaklumi bahwa wanita dititipkan kepada kaum pria agar mendidik dan memimpinnya.


Wanita itu kurang akal dan agamanya, dijadikan dari tulang yang paling bengkok, bila diperlakukan dengan keras akan patah, bila dibiarkan tetap saja dia bengkok yaitu suka berbuat jahat dan menyelisihi sunah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang sahih.


Wanita perlu dinasihati pelan-pelan, diambil hatinya, beri tahu dia bahwa salat adalah perintah Allah, bukan perintah suami. Seseorang dikatakan muslim bila menjalankan salat. Bila tidak, maka dia menjadi kafir, sedangkan orang kafir tidak boleh menikah dengan orang Islam. Bacakanlah hadis berikut ini dengan bahasa nasihat, semoga istri mau sadar dan segera rajin salat lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ اَلصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ


“Sesungguhnya perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. An-Nasa’i; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah, 1/126)


Jika usaha dengan lembut dan dengan berbagai macam cara belum juga dia mau salat, sedangkan suami sudah menimbang maslahat dan madharatnya, bila dia meminta cerai maka ceraikan dia, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik.


عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجاً خَيْراً مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَاراً


“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5).

Senin, 07 November 2022

Setelah Jenazah Dikuburkan, Ini Perintah Nabi yang Sering Dilupakan



 Islam menganjurkan kepada umatnya untuk saling memupuk kepedulian antar sesama umat manusia, khususnya kepada sesama muslim. Ini tercermin saat ada muslim yang meninggal dunia.


 Sebagian mereka berkewajiban untuk mengurus jenazahnya, bahkan setelah dimakamkan pun ada hal-hal penting yang harus dilakukannya seperti mendoakannya agar dosanya terampuni.


Hal ini sesuai hadis Nabi seperti yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadussholihin:


عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه، وقال: استغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل


Artinya:


“Diriwayatkan dari Usman bin Affan berkata,  bahwa Nabi Muhammad SAW setelah menguburkan mayat lalu beliau berdiri diatas kuburnya. Dan berkata:”Mintalah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah ketetapan hati karena saat ini dia akan ditanya oleh malaikat. (HR. Abu Dawud).


Dari penjelasan hadis di atas, Nabi berpesan kepada umatnya bila ada yang meninggal dunia setelah jenazah dimakamkan untuk melakukan beberapa hal:


Pertama, meminta ampunan kepada orang tersebut. Imam Ibnu Alan dalam Dalil Al-Falihin menjelaskan alasan untuk memintakan ampunan dikarenakan doa dari orang lain sangat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal.


Kedua, meminta agar diberikan Keteguhan hati saat ditanya malaikat setelah dikuburkan. Menurut Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin menjelaskan bahwa keteguhan hati ada tiga kategori. Pertama. Allah mengajarkan kebenaran kepada dirinya sehingga mudah menjawab pertanyaan malaikat. Kedua, Allah menghilangkan ketakutan saat ditanya malaikat. Ketiga, Allah memperlihatkan surga kepada dirinya sehingga kuburannya seperti pertamanan surga.


Dari penjelasan ini, penting kiranya saat menghantarkan jenazah sampai pemakaman tak terburu-buru pulang sampai mendoakan orang yang meninggal terlebih dahulu.


Tulisan ini sudah dipublikasikan di Islami.co

Minggu, 23 Oktober 2022


 #Pertanyaan :

 Bagaimanakah cara shalat khusyu’?


#Jawaban:


Inti dari shalat adalah zikir mengingat Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt.


وَأَقِمِ ال لَّا صلَاةَ لِ ي


“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku”. (Qs. Thaha *20+: 14).


Oleh sebab itu Allah Swt mengecam orang yang shalat tetapi tidak mengingat Allah:


) فَػوَ لٌ لِلْمُصَلدِّ ) 4( اللَّا نَ ىُمْ عَنْ صَلَاتِِِمْ سَاىُوفَ ) 5


“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (Qs. al-Ma’un *107+: 4-5).


Zikir mengingat Allah Swt dalam shalat tidak dibangun sejak Takbiratul-Ihram, akan tetapi jauh sebelum itu. Rasulullah Saw sudah mengajarkan kekhusyu’an hati sejak berwudhu’. Dalam hadits disebutkan:


مَنْ تَػوَ لَّا ض فَمَضْمَضَ وَاسْتَػنْ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ فَمِوِ وَأَ فِوِ فَ ذَا اَسَلَ وَجْ وُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ وَجْ وِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْػنَػيْوِ فَ ذَا اَسَلَ دَ وِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ دَ وِ فَ ذَا مَسَحَ رَأْسَوُ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رَأْسِوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ أُذُ ػيَْوِ فَ ذَا اَسَلَ رِجْلَيْوِ خَ جَتْ خَطَا اهُ مِنْ رِجْلَيْوِ لَّاتَّ تَخْ جَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْوِ وَ ا تْ صَلاَتُوُ وَمَ يُوُ إِلَذ الْمَسْ دِ افِلَة


“Siapa yang berwudhu’, ia berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, maka keluar dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluar dosanya dari wajahnya hingga keluar dari kelopak matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluar dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya maka keluar dosanya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluar dosanya dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku kakinya. Shalatnya dan langkahnya ke masjid dihitung sebagai amal tambahan”. (HR. Ibnu Majah).


Wudhu’ bukan sekedar kebersihan fisik, tapi juga telah mengajak hati untuk khusyu’ kepada Allah Swt dan meninggalkan semua keduniawian yang dapat melalaikan hati dari Allah Swt, meskipun hal kecil, oleh sebab itu Rasulullah Saw melarang menjalinkan jari-jemari dan membunyikannya setelah berwudhu’ menjelang shalat:


إِذَا تَػوَ لَّا ض أَ دُ مْ فَ سَنَ وُضُوءَهُ ثُُلَّا خَ جَ عَامِدًا إِلَذ الْمَسْ دِ فَلاَ « عَنْ عْبِ بْنِ عُ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ بدِّكَ لَّا ن بػ أَصَابِعِوِ فَ لَّاوُ صَلاَةٍ .


Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu berwudhu’, ia berwudhu’ dengan baik, kemudian ia pergi ke masjid, maka janganlah ia menjalinkan jari jemarinya, karena sesungguhnya ia berada dalam shalat”. (HR. at-Tirmidzi).


Menunggu dan menantikan kehadiran shalat dengan persiapan hati untuk memasukinya. Rasulullah Saw bersabda:


قَالُوا بػلََى ا .» أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يََْحُو الللَّاوُ بِوِ اتطَْطَا ا وَ ػ فَعُ بِوِ اللَّادرَجَاتِ « عَنْ أَبَِ ىُ ػ ةَ أَ لَّا ف رَسُوؿَ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم- قَاؿَ .» إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَ ثْػ ةُ اتطُْطَا إِلَذ الْمَسَاجِدِ وَا تِظَارُ ال لَّا صلاَةِ بػعَْدَ ال لَّا صلاَةِ فَ لِكُمُ الدِّ بَاطُ « رَسُوؿَ الللَّاوِ . قَاؿَ


Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan perbuatan yang dapat menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Para shahabat menjawab: “Ya wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ pada saat tidak menyenangkan, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah ikatan (dalam kebaikan)”. (HR. Muslim).


Menjawab seruan azan. Rasulullah Saw bersabda:


إِذَا قَاؿَ الْمُ ذدِّفُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . فَػ اؿَ أَ دُ مُ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ « - قَاؿَ رَسُوؿُ الللَّاوِ -صلى الله عليو وسلم إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاوُ ثُُلَّا قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . قَاؿَ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ . قَاؿَ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ . ثُُلَّا قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . .» قَاؿَ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ . ثُُلَّا قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . قَاؿَ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو . مِنْ قَػلْبِوِ دَخَلَ اتصَْنلَّاةَ


Rasulullah Saw bersabda:


“Apabila mu’adzin mengucapkan: *


 الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ]


 (Allah Maha Besar). Salah seorang kamu menjawab dengan:


 [ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] 


(Allah Maha Besar). Kemudian mu’adzin mengucapkan: *


 أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ]


 (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab dengan: 


[ أَشْ دُ أَفْ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ]


 (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah). Mu’adzin mengucapkan: *


 أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ]


 (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ia menjawab dengan:


 [ أَشْ دُ أَ لَّا ف تُػَ لَّا مدًا رَسُوؿُ الللَّاوِ ]


 (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * 


لَّا ى عَلَى ال لَّا صلاَة ]


 (Marilah melaksanakan shalat). Ia menjawab dengan:


 [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ]


 (tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: 


* لَّا ى عَلَى الْفَلاَحِ ]


 (Marilah menuju kemenangan). Ia menjawab dengan:


 [ لاَ وْؿَ وَلاَ قُػلَّاوةَ إِلالَّا بِالللَّاوِ ] 


(tiada daya dan upaya selain dengan Allah). Mu’adzin mengucapkan: * 


الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] 


(Allah Maha Besar). Ia menjawab dengan: 


[ الللَّاوُ أَ بَػ الللَّاوُ أَ بَػ ] 


(Allah Maha Besar). Mu’adzin mengucapkan: *


 لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو ] 


(tiada tuhan selain Allah). Ia menjawab: :


 [ لاَ إِلَوَ إِلالَّا الللَّاو +


 (tiada tuhan selain Allah), dari hatinya, maka ia masuk surga”. (HR. Muslim).


Menjawab ucapan mu’adzin dari hati membimbing hati ke dalam kekhusyu’an shalat. Menutup dengan doa wasilah. Rasulullah Saw bersabda:


مَنْ قَاؿَ سْمَعُ الندِّدَاء الللَّا لَّا م رَ لَّا ب ىَ هِ اللَّادعْوَةِ التلَّاالَّامةِ وَال لَّا صلاَةِ الْ ائِمَةِ آتِ تُػَ لَّا مدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْػعَثْوُ مَ امًا تَػْمُودًا اللَّا ى وَعَدْتَو للَّاتْ لَوُ شَفَاعَتَِّ ػوََْ الْ يَامَةِ


Siapa yang ketika mendengar seruan azan mengucapkan:


“Ya Allah Rabb Pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad Saw al-Wasilah dan keutamaan, bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”. Maka layaklah ia mendapat syafaatku pada hari kiamat”. (HR. al-Bukhari.

Memahami makna lafaz yang dibaca dalam shalat. Pemahaman tersebut mendatangkan kekhusyu’an di dalam hati. Ketika seorang muslim yang sedang shalat membaca:


إِ لَّا ف صَلاَتِى وَ سُكِى وَتَػْيَاىَ وَتَؽَاتِى لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ


“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam”. Ia fahami maknanya, maka akan mendatangkan kekhusyu’an yang mendalam, bahkan dapat meneteskan air mata karena penyerahan diri yang seutuhnya kepada Allah Swt. Merasakan dialog dengan Allah Swt. Ketika sedang membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang berdialog dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan:


قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ قَسَمْتُ ال لَّا صلاَةَ بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى صْفَ وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ فَ ذَا قَاؿَ الْعَبْدُ ) اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ تزَِدَنِِّ عَبْدِى وَإِذَا قَاؿَ )اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ (. قَاؿَ الللَّاوُ تَػعَالَذ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى. وَإِذَا قَاؿَ )مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ (. قَاؿَ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى - وَقَاؿَ مَلَّا ةً فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى - فَ ذَا قَاؿَ )إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ (. قَاؿَ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ . فَ ذَا قَاؿَ )اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ .» الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ (. قَاؿَ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ


Allah berfirman: “Aku membagi shalat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.


Ketika hamba-Ku itu mengucapkan:


 [ اتضَْمْدُ لِللَّاوِ رَ دِّ ب الْعَالَمِ ] 


(segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). Allah menjawab:


 [ تزَِدَنِِّ عَبْدِى ]


 (hamba-Ku memuji Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan:


 [ اللَّا تزَْنِ اللَّا يمِ ] 


(Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah menjawab:


 [ أَثْػنَِ عَلَ لَّا ى عَبْدِى ] 


(hamba-Ku menghormati Aku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan:


 [ مَالِكِ ػوَِْ الدِّد نِ ] 


(Raja di hari pembalasan). Allah menjawab: 


[ تَغلَّادَنِِّ عَبْدِى ]


 (hamba-Ku mengagungkan Aku). Dan


 [ فَػلَّاوضَ إِ لََّا لذ عَبْدِى ] 


(hamba-Ku melimpahkan (perkaranya) kepada-Ku). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: 


[ إِ لَّااؾَ ػعَْبُدُ وَإِ لَّااؾَ سْتَعِ ] 


(kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami meminta tolong). Allah menjawab: 


[ ىَ ا بػيَْنِِ وَبػ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ] 


(ini antara Aku dan hamba-Ku, ia

 mendapatkan apa yang ia mohonkan). Ketika orang yang shalat itu mengucapkan: 


[ اىْدِ ا ال دِّ ص اطَ الْمُسْتَ يمَ صِ اطَ اللَّا نَ أَ ػعَمْتَ عَلَيْ مْ اَيْرِ الْمَ ضُوبِ عَلَيْ مْ وَلاَ ال لَّا ضالدِّ ] 


(tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau berikan kepada mereka, bukan jalan orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat). Allah menjawab: 


[ ىَ ا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَ ؿَ ]


 (ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku itu mendapatkan apa yang ia mohonkan). (HR. Muslim).


Merasakan seolah-olah itulah shalat terakhir yang dilaksanakan menjelang kematian tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk beramal shaleh sebagai bekal menghadap Allah Swt.

Apakah hukum orang yang meninggalkan shalat secara sadar dan sengaja?

 


#Pertanyaan 

Apakah hukum orang yang meninggalkan shalat secara sadar dan sengaja?


#Jawaban:


الكبيرة الع وف ت ؾ الصلاة متعمدا


إف ال ارع اتضكيم قد أم اتظ من ب قامة الصلاة وأدائ ا والمحافظة علي ا والاىتما ا ف اؿ تعالذ : } إف الصلاة ا ت على اتظ من تابا موقوتا { وقاؿ تعالذ : } ال ن يموف الصلاة { والسنة لك . روي عن رسوؿ الله صلى الله عليو و سلم : ) أربع ف ض ن الله في الإسلا فمن أتى بثلاث لد ن عنو شيئا تَّ تي ن تريعا الصلاة والل اة وصيا رمضاف و ج البيت ( رواه أتزد . وروي


84 Majmu’ Fatawa Ibn Taimiah: 5/105.


عن عم بن اتططاب رضي الله عنو قاؿ : قاؿ رسوؿ الله صلى الله عليو و سلم : ) من ت ؾ الصلاة متعمدا ا ب الله عملو وب ئت منو ذمة الله تَّ اجع الله عل و جل توبة ( رواه الأصف اني . وعن ابن عباس رضي الله عن ما قاؿ : ) من ت ؾ الصلاة ف د ف ( وعن ابن مسعود رضي الله عنو قاؿ : ) من ت ؾ الصلاة فلا د ن لو ( وعن جاب بن عبد الله رضي الله عن ما قاؿ : ) من لد صل ف و اف ( . وقد صح عن النبِ صلى الله عليو و سلم : أف تارؾ الصلاة اف و لك اف رأي أىل العلم من لدف النبِ صلى الله عليو و سلم : أف تارؾ الصلاة عمدا من اير ع ر تَّ ىب وقت ا اف لأ و تِ م على ت ؾ أم ه تعالذ وقد وري عن النبِ صلى الله عليو و سلم أ و قاؿ : ) ب ال جل وب الكف ت ؾ الصلاة (


Dosa besar yang kedua puluh adalah meninggalkan shalat secara sengaja. Pensyariat Yang Maha Bijaksana telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menegakkan shalat, menunaikannya, menjaganya dan memperhatikannya.


 Allah Swt berfirman: 

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. 

(Qs. an-Nisa’ *4+: 103). Dan firman-Nya: “Orang-orang yang mendirikan shalat”.


Sunnah juga demikian, diriwayatkan dari Rasulullah Saw: 

“Empat perkara yang diwajibkan Allah dalam Islam, siapa yang melaksanakan tiga, maka itu tidak mencukupi baginya hingga ia melaksanakan semuanya; shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji ke baitullah”. (HR. Ahmad).


 Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, Rasulullah Saw bersabda: 

“Siapa yang meninggalkan shalat secara sengaja, maka Allah menggugurkan amalnya, perlindungan Allah dijauhkan darinya (ia kafir), hingga ia kembali kepada Allah dengan bertaubat”. 

(HR. al-Ashfahani). 


Dari Ibnu Abbas, ia berkata:

 “Siapa yang meninggalkan shalat, maka kafirlah ia”. 


Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: 

“Siapa yang meninggalkan shalat, maka tidak ada agama baginya”. 


Dari jabir bin Abdillah, ia berkata: “Siapa yang tidak shalat, maka ia kafir”.


Hadits shahih dari Rasulullah Saw: “Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat itu kafir”.


 Demikian juga pendapat para ulama dari sejak masa Rasulullah Saw bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja tanpa udzur hingga waktunya berakhir, maka kafirlah ia, karena Allah Swt mengancam orang yang meninggalkan shalat. 

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw: “Antara seseorang dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”85.

Sabtu, 22 Oktober 2022

Doa untuk Kedua Orang Tua,


 
Sudah sepatutnya kita mendoakan kedua orang tua kita supaya Allah memberkahi beliau berdua.

Karena sangat besar sekali jasa orang tua kepada anak-anaknya. Ridho Allah adalah ridho kedua orang tua kita.

Ayah dan Ibu merupakan orangtua yang harus selalu kita doakan.

Sebenarnya, mendoakan orangtua baik ibu ataupun ayah harus kita lakukan setiap harinya.

Dalam Islam, mendoakan kedua orang tua adalah tanda bakti kita kepada keduanya, baik saat masih hidup maupun setelah mereka berdua tiada.

Doa untuk Kedua Orangtua Dalam bahasa Arab

untuk Kedua Orang Tua /Muhammad Ma'ruf

رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

Doa untuk Kedua Orangtua Dalam Tulisan Latin

Rabbighfir lii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shagiiran

Artinya:

"Tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil”.***

Sabtu, 06 Agustus 2022

Resep dan Cara Membuat Sop Ikan Gurame


Bahan:

1 ekor ikan gurame bagi 4-5 potong dilumuri asem jawa atau jeruk nipis diamkan sampai ikan berubah putih/kesat pucat, jangan kelamaan biar daging ikan ga asam, lalu sisihkan.

8 butir bawang merah, iris tipis

5 siung bawang putih, geprek, iris tipis

2 cm jahe, geprek

3 cm kunyit, geprek

2 batang sereh, geprek

2 lembar daun salam/daun jeruk

1 ikat kemangi, ambil daunnya (Bungie di skip karena ga ada)

1 batang daun bawang, potong2

1 buah tomat hijau/merah, potong2 (Bungie merah)

1 sdt air jeruk nipis/lemon/atau 2 buah belimbing wuluh dipotong 2 (Bungie skip ga pakai karena udah asem dari tomat)

7 buah cabe rawit utuh (Bungie pakai cabe merah besar buang biji nya biar bocil2 bisa maem)

1 liter air

Garam Himalaya

Merica

Kaldu jamur Totole

Minyak canola/zaitun/atau jagung, atau kelapa secukupnya


Cara Membuatnya:

1). panaskan minyak di panci, tumis bawang merah dan bawang putih. Aduk hingga wangi. Masukan jahe, kunyit, daun salam, dan sereh. Masak hingga bawang matang dan wangi.

2). masukan air, aduk rata, biarkan mendidih. Masukan ikan. Masak hingga ikan matang. Bumbui dengan garam, gula, merica, kaldu jamur.

3). masukan kemangi, cabe rawit, tomat dan daun bawang. Matikan api


Jumat, 15 Juli 2022

#Anjuran_Sholat_Taubat #dalam_Islam




Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bersemangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mendekatkan diri pada-Nya, dan tidak terjerumus dalam kubangan maksiat. 

Namun bagaimana jika seseorang terlanjur terjerumus dalam dosa?

 Jawabnya, ia punya kewajiban untuk bersegera bertaubat dan kembali pada Allah. 

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyunnahkan sholat taubat ketika seseorang benar-benar ingin bertaubat.

Berikut tuntunannya.

sholat taubat adalah sholat yang disunnahkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab. 

Hal ini  berdasarkan hadits Abu Bakr Ash Shiddiq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan sholat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.

” Kemudian beliau membaca ayat ini: “

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? 

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
” (HR. Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). 

Meskipun sebagian ulama mendhoifkan hadits ini, namun kandungan ayat (Ali Imron ayat 135) sudah mendukung disyariatkannya sholat taubat.

sholat taubat ini bisa cukup dengan dua raka’at dan cukup niat dalam hati, tanpa perlu melafazhkan niat tertentu.

Kapan waktu pelaksanaan? 

Tidak ada keterangan waktu pelaksanaannya, boleh dilakukan siang atau malam hari. 

Bahkan di waktu terlarang untuk sholat sekalipun, seseorang boleh melakukannya. 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ

“Demikian pula sholat taubat (termasuk sholat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk sholat). 

Jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. 

Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan sholat taubat sebanyak dua raka’at. 

Lalu ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakr Ash Shiddiq.”

Setelah seseorang mengetahui sholat taubat, ia pun harus memenuhi syarat-syarat taubat. 

Apa saja syarat-syaratnya? 

Secara ringkas dikatakan oleh para ulama sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir,

“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu.

 Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. 

Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”

Secara lebih rinci, syarat-syarat taubat adalah:

1.  Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali.

 Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar, 
“Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.”

‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa taubat adalah dengan menyesal.

3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa saat ini. 

Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.

4.  Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. 

Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan taubat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

5. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. 

Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima.

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” 
(QS. At Tahrim: 8)

Jumat, 01 Juli 2022

Silsilah Nabi Muhammad Sampai Nabi Adam Lengkap dengan Tabelnya



Silsilah Nabi Muhammad sampai Nabi Adam perlu diketahui umat muslim. Satu-satunya manusia yang nasabnya tersambung jelas sampai ke manusia pertama Nabi Adam ialah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Inilah salah satu keistimewaan Nabi Muhammad SAW yang tidak dimiliki manusia manapun di muka bumi. Silsilah Nabi Muhammad sampai ke Nabi Adam diabadikan agar tidak ada yang menyoal diri beliau sebagai Nabi terakhir yang diutus Allah atau penutup para Nabi dan Rasul.

Di antara keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau dilahirkan dari nasab paling mulia. Terlahir dari suku Quraisy, suku terhormat bangsa Arab dan kabilah paling mulia di dunia.

Untuk diketahui, silsilah Nabi Muhammad terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Silsilah Nabi Muhammad sampai Adnan (yang harus diketahui).

2. Dari Adnan Sampai Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

3. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Adam 'alahissalam.

Berikut Nasab Nabi Muhammad Sampai ke Nabi Adam:

1. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

2. Abdullah

3. Abdul Muthallib

4. Hasyim

5. Abdu Manaf

6. Qushoi

7. Kilab

8. Murroh

9. Ka'ab

10. Luay

11. Gholib

12. Fihr (julukannya adalah Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya)

13. Malik

14. Nadhr

15. Kinanah

16. Khuzaimah

17. Mudrikah (amir)

18. Ilyas

19. Mudhor

20. Nizar

21. Ma'ad

22. Adnan

23. 'Adad

24. Hamaisa'

25. Salaaman

26. 'Iwadh

27. Buuz

28. Qimwal

29. Abi

30. 'Awwam

31. Naasyid

32. Hiza

33. Buldas

34. Yadhaf

35. Thabiikh

36. Jaahim

37. Naahisy

38. Maakhi

39. 'Iid

40. 'Abqor

41. 'Ubaid

42. Addi'a

43. Hamdaan

44. Sunbur

45. Yatsribi

46. Yahzan

47. Yalhan

48. Ar'awi

49. 'Iid

50. Disyaan

51. 'Aishor

52. Afnaad

53. Ayhaam

54. Miqhsor

55. Naahits

56. Zaarih

57. Sumay

58. Mizzi

59. 'Uudah

60. 'Urom

61. Qoidzar (Haidir)

62. Nabi Isma'il 'alaihissalam

63. Nabi Ibrahim 'alaihissalam

64. Taarih (Aazar)

65. Naahur

66. Saaru

67. Raa'uw

68. Faalikh

69. 'Aabir

70. Syalikh

71. Arfakhsyad

72. Sam

73. Nabi Nuh 'alaihissalam

74. Laamik

75. Mutwisylakh

76. Akhnukh (Ada yang berpendapat Nabi Idris 'alaihissalam)

77. Yarid

78. Mahlaail

79. Qinan (Qoinaan)

80. Anusyah

81. Nabi Syits 'alaihissalam

82. Nabi Adam 'alaihissalam.

Referensi:

Nasab Bagian I

1. Kitab Ibnu Hisyam juz 1 hal 1-2 2. Kitab Tarikh Thobari juz 2 Hal 239-271

Nasab Bagian II

1. Kitab Thobaqot (ibnu sa'di yang Menyebutkan Diriwayatkan Ibnu Kalbi) Juz 1 Hal 56

2. Kitab Tarikh Thobari Juz 2 hal 272

3. Kitab Tharikh Thobari juz 2 hal 271-276 (timbulnya khilaf pada juz ke 3)

4. Kitab Fathul Bari Juz 6 Hal 621-623

Nasab Bagian III

1. Kitab Ibnu Hisyam juz 1 hal 2-4

2. Kitab Tharikh Thobari juz 2 hal 276

Wallahu A'lam